Di usia pernikahan mereka yang ke sepuluh tahun, keduanya sudah dikaruniai dua anak. Mereka hidup bahagia dan sejahtera, anak-anaknya pun tumbuh dengan optimal. Gizi tercukupi, hidupnya pun selalu disertai kegembiraan.
Maklumlah, Joko memang sosok suami idaman, sudah tampan, mapan, dan juga pekerja keras. Ia sering menerima jatah lemburan, maka hasil yang didapat pun selalu di atas gaji pokok.
Namun setiap habis lembur, Joko selalu mengeluh badannya pegal-pegal, kalau kata orang Serang mah, awake boyoken. Kalau sudah begitu, Joko pasti langsung meminta Santi untuk memijat.
Setiap itu pula, Santi merasa menjadi istri yang tak berguna. Soalnya, setiap ia memijat, bukannya merasa senang, Joko malah nambah mengeluh karena pijatan Santi tak enak dan tak terasa.
Karena sering mengalami hal itu, mereka pun sering ribut. Setiap Joko kelelahan, pasti malah jadi marah-marah. Sejak itulah benih-benih keretakan rumah tangga mereka mulai muncul. “Tapi besok paginya mah dia enggak marah lagi,” akunya.











