Kapasitas maksimal Bendungan Sindangheula sebesar 9 juta meter kubik, namun akibat hujan intensitas tinggi yang terjadi mengakibatkan volume air di bendungan tersebut menjadi 11 juta kubik.
“Nah, kelebihan 2 juta kubiknya itu megalir secara alami ke aliran Sungai Cibanten,” ujarnya.
Aliran air yang alami itu menjadi persoalan kemudian, kata Andika, karena badan Sungai Cibanten mengalami penyempitan sehingga tidak mampu mengalirkan secara aman kelebihan volume air di Bendungan Sindangheula ke muara sungai di perairan laut Kota Serang. “Jadi kemarin banyak yang bilang Bendungan Sindangheula jebol. Bukan jebol itu, tapi kelebihan kapasitas yang sebetulnya jika aliran sungainya tidak mengalami penyempitan, banjir tidak akan terjadi,” kata Andika.
Untuk itu, lanjutnya, Pemprov Banten telah mendorong agar Pemerintah Pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung dan Cidurian (BBWSC3) sebagai pihak yang berwenang atas Sungai Cibanten, untuk menormalisasi badan Sungai Cibanten.
“Kami sedang menunggu DED (detail enginering design-red) dari BBWSC 3, nanti tiba pelaksanaanya, kami Pemprov Banten akan mendorong Pemkot Serang untuk melakukan penertiban DAS (daerah aliran sungai) di Cibanten,” papar Andika. (Rostina)











