“Gara-gara harga minyak goreng masih tinggi, imbasnya ke mana-mana. Seperti harga bumbu untuk olahan kerupuk saya ini juga menjadi naik, dan naiknya harga bumbu tersebut sekitar 80 persen,” katanya, Rabu, 9 Maret 2022.
Dia menambahkan, untuk menyiasati hal tersebut, pabrik kerupuknya tidak bisa menaikkan harga jual kerupuk di pasaran. Dia tetap menjual kerupuk Rp1.000 per biji agar pelanggannya tidak kabur.
“Paling kerupuknya kami kecilkan ukurannya, tapi tidak kecil-kecil amat, yah paling dikecilkan 10 persen dari sebelumnya, karena meskipun semua bahan untuk pembuatan kerupuk naik, tetap di warung mah harganya seribu rupiah saja,” ujarnya.
Dia berharap agar situasi ini segera berakhir, harga kebutuhan pokok kembali normal, termasuk harga minyak goreng dan bumbu kerupuk.
“Home industry pembuatan kerupuk Buana ini merupakan usaha turun-temurun, yang berasal dari kakek saya, dan saat ini mempekerjakan 10 orang karyawan, tiga di antaranya adalah ibu-ibu. Dan alat untuk menggorengnya kami menggunakan kayu bakar, selain menjadikan pengapiannya bagus, juga untuk menghemat beban produksi, karena kalau pakai gas saya tidak mampu membelinya,” tuturnya.
Salah satu karyawan Nandi, Maesaroh (45), mengaku khawatir pabrik kerupuk tempatnya bekerja akan bangkrut jika harga minyak goreng dan bumbu kerupuk tetap mahal.
“Gimana ini kondisi begini, apa-apa serba naik. Saya takut kalau pabrik kerupuk ini tutup, nanti saya bisa kehilangan pekerjaan di sini,” ujarnya.
Reporter : Mulyadi











