Suatu hari ada kapal saudagar kaya asal Negeri Malaka bernama Teuku Abu Matsyah yang bersandar di pelabuhan Teluk Banten. Dampu Awang tertarik untuk merantau ke Negeri Malaka dengan menumpang kapal milik saudagar kaya tersebut. Ia ingin merubah nasib. Punya uang dan bisa membangunkan rumah bagus buat ibunya.
Ia pun memohon ijin kepada ibunya. Tentu saja ibunya yang sudah renta ini menolak. Walaupun hidup miskin, ibunya tetap ingin Dampu Awang tinggal bersamanya. Apalagi ia sudah tua. Khawatir tidak bisa bertemu lagi. Dampu sedih tidak diijinkan. Ibunya tau itu. Karena kasihan, keesokan harinya, Dampu Awang direstui merantau ikut saudagar kaya.
Sebelum berangkat, ibunya menitipkan seekor burung perkutut bernama si ketut, peninggalan almarhum suaminya kepada Dampu Awang. Si ketut ini pandai mengirimkan pesan.
Dampu segera minta ijin kepada Teuku Abu Matsyah ikut berlayar bersamanya, yang langsung disetujui.
“Ibu …. Dampu berangkat. Jaga diri ibu baik-baik,” pamit Dampu kepada ibunya dari anjungan kapal.
Diiringi isyak tangis ibunya, Dampu meninggalkan pelabuhan Teluk Banten menuju Negeri Malaka.
Di kapal, Dampu rajin membantu membersihkan kapal. Sehingga Teuku Abu Matsyah tertarik mengajak Dampu bekerja dengannya.










