Sesampainya di Negeri Malaka, Dampu dikenal sebagai pekerja yang rajin dan ulet. Teuku Abu Matsyah berniat untuk menjodohkan putrinya, Siti Nurhasanah dengan Dampu Awang. Lantas keduanya menikah dan hidup bahagia.
Beberapa bulan setelah keduanya menikah, Tengku Abu Matsyah meninggal dunia. Sehingga, seluruh hartanya diwariskan kepada keduanya.
Jadilah Dampu dan Siti Nurhasanah dikenal sebagai saudagar kaya raya. Hidup bergelimang harta. Dampu melupakan ibunya di kampung halaman.
Setelah lima tahun di perantauan, timbulah keinginan Dampu untuk pulang ke Banten.
Berangkatlah ia dan istrinya dengan diiringi pengawal ke Banten. Sebuah kapal megah dan besar membawa rombongan berlayar berhari-hari menuju Banten. Kabar kedatangan kapal megah ini tersiar hingga ke seluruh Negeri Banten. Hingga mereka berbondong-bondong menuju pelabuhan.
Di antara kerumunan orang, terdapat wanita tua semringah dengan pakaian compang camping. “Jangan jangan yang punya kapal itu anakku,” guman perempuan tua itu.
Ketika ia yakin bahwa yang datang putranya, ia berteriak memanggil putranya sambil melambaikan tangan.
Dampu Awang yang dipanggil segera mencari asal suara. Namun, ketika yang dilihatnya perempuan tua keriput dengan pakaian compang camping, ia segera memalingkan wajahnya. Siti Nurhasanah, istrinya heran.










