Semakin hari, Marja yang dulu kami kenal semakin luntur saja warna dalam dirinya. Entah mengapa seperti ada hal yang hilang dalam dirinya. Meski begitu, tidak sekonyong kami pun melupakannya. Justru dengan Marja yang sekarang kami malah semakin sayang.
Namun, ini rupanya tidak berlaku bagi Tuk. Segala tingkah laku Marja tidak membuat kepulangannya dari kota menjadi tenang.
Sebagai mahasiswa tingkat akhir pada sebuah kampus swasta di Kota S, Tuk menganggap laku Marja membuatnya geli bahkan lebih dekat dengan rasa benci.
Tuk kecewa karena pos ronda, yang biasa menjadi tempatnya berbagi cerita berubah menjadi pergunjingan menyebalkan, menurutnya.
Ya, jika dia pulang dari kota, dia memang sering bercerita tentang ingar bingar kota yang katanya sangat menjengkelkan dan panas.
Aku yang memang pernah dulu ke kota manut saja mendengarkan ceritanya. Sebab memang ketika pergi ke kota, aku rasakan adalah hawa panas dari berbagai arah.
Seperti pada tiap udaranya menyimpan percik api yang bisa membakar siapa saja yang dikehendakinya.
Seperti malam ini, ketika perapian di depan kami sudah hampir habis, tetapi Tuk justru semakin bersemangat saat bercertia tentang bagaimana perjuangannya dalam melakukan aksi demo di hadapan kantor kenegaraan.











