Pada malam keempat aku dirawat.
“Gimana, udah baikan?” tanya suster Yuni. Dia berdiri di samping tempat tidur.
“Udah, tiduran aja,” suster Yuni menahan tubuhku saat hendak bangun.
Malam berikutnya, sampai malam terakhir sebelum aku diizinkan keluar dari rumah sakit, suster Yuni selalu datang. Dan, pasti menjelang tengah malam.
Suster Yuni menemaniku ketika suasana ruangan tempatku dirawat agak sepi. Pasien lain di kelas 3, rata-rata sudah tidur.
Aku tidak merasakan keanehan di setiap kehadiran suster Yuni. Dia justru aku anggap perhatian. Membuatku nyaman.
Ketika tidak ada keluarga dan teman yang menemaniku dalam sakit, dia ada.
Aku sampai bela-belain enggak tidur sebelum suster Yuni datang.
Aku enggak sadar kalau jam kerja suster atau perawat itu bergiliran. Diatur berdasarkan sif.










