“Ris, ayo tak antar ke dokter,” ajak Tono.
“Bapak yang nyuruh”
Tono membantuku berdiri. Memapahku berjalan sampai ke dalam mobilnya. Dia membawaku ke dokter langganan keluarganya.
Diagnosa sementara dokter, aku terkena demam berdarah. Aku harus dirawat di rumah sakit.
Sejak hari pertama menjalani perawatan, tidak ada yang menemaniku ketika malam. Teman dan orang-orang yang aku kenal, datang pada jam besuk. Siang atau sore.
Yang paling sering adalah keluarga bapak kos. Hampir setiap hari mereka menjenguk. Juga selalu pada jam besuk, siang atau sore.
Dokter dan suster yang merawatku pun bekerja seperti pada umumnya. Mereka hanya bicara ketika ada hal yang berkaitan dengan perkembangan kesehatanku. Tidak lebih.
Aku terhibur sejak suster Yuni datang pada malam ketiga aku dirawat.
Bukan cuma sikapnya ramah dan supel, tapi juga karena parasnya cukup cantik. Kulitnya putih sedikit pucat. Perkiraanku, suster Yuni baru berusia 25 tahun.










