Dirinya yang merasa sudah berumur, memilih untuk melaju pelan-pelan saja. “Biar fun dan bugarnya dapet. Itung-itung rekreasi. Sambil menikmati the beauty of Banten sekaluan kulineran saja,” jawabnya lagi-lagi merendah.
Untuk menambah pengalaman dan sahabat-sahabat gowes, ayah dari Rafli ini bergabung dengan komunitas SRB (Serang Road Bike) dan Serang Cilegon Anyer Merak (SCAM) Facebikers. “Untuk menambah teman dan ajang silaturahmi. Selain itu juga gowes dengan temen-temen Komplek Ciceri Permai,” tambahnya.

Untuk yang gowes dengan rekan-rekan Komplek Ciceri Permai biasa menempuh trek favorit. Yaitu tanjakan 45 atau tanjakan kunang-kunang. Dilanjut ke Sayar. “Yang agak jauh ke Lemburkula di Kaduengang, Pandeglang,” katanya.
Ia mengaku, gowes terjauh yang pernah dilakoninya sejauh 175 kilometer. “Gak kuat yang 200 kilometer. Apalagi yang lebih seperti temen temen SRB ikut Audax yang sejauh 300 kilometer. Saya pilih yang sedang-sedang karena faktor umur,” lanjutnya.
Pria yang mengawali karirnya sebagai guru di SMEA Serang 1987 -1997 mengidolakan legenda gowes Surabaya Koh Hay di acara podcast-nya Azrul Ananda dan Jhony Ray yang usianya di atas 71 tahun tapi masih kuat gowes di atas 100 kilometer dan tetap fresh dan bugar.
Oeng juga pernah berpindah tugas ke Bandung sebagai Kepala SMKN 3 pada 1997 – 2000. Kemudian berpindah lagi ke Serang menjadi Kepala SMKN 1 Kota Serang. Pernah dipercaya sebagai Kepala SMAN CMBBS Pandeglang, sebelum terakhir menjabat sebagai Kasi Kurikulum SMK Dindik Provinsi Banten.
Penulis : M Widodo











