“Bentuk bangunannya masih asli tidak ada yang diubah. Karena memang belum pernah dilakukan pemugaran,” katanya kepada Radar Banten, Kamis 7 April 2022
Menurutnya, pemugaran tidak dapat dilakukan karena memang bangunannya masih kokoh dan kuat. Warga masih ingin mempertahankan keasliannya.
“Adapun saat ini, yang dilakukan berupa perluasan bangunan saja. Namun tanpa membongkar atau mengubah bangunan aslinya,” katanya.
Ketika ditanya, kapan masjid kuno Baitul Arsy dibangun, Saprudin mengatakan, terkait sejarah masjid tidak ada yang mengetahuinya secara pasti. Warga hanya mengetahui bahwa masjid ini peninggalan dari Syekh Karan.
“Usia saya saat ini sudah berusia 65 tahun namun enggak mengetahui sejarahnya. Tapi enggak tahu ya kalau kakek buyut saya mungkin mengetahui karena memang ayah saya juga gak mengetahui kapan masjid ini dibangun,” katanya.
Warga tahu masjid ini merupakan salah satu peninggalan Syekh Karan. Adapun penamaan masjid Baitul Arsy ini diambil dari bahasa Arab bisa diartikan tempat ibadah di puncak atau di atas.
“Kalau melihat lokasi bangunan masjid memang berada di dataran tinggi. Berada di lereng Gunung Karang,” katanya.
Di dalam area masjid terdapat sumber mata air yang sangat jernih. Airnya tetap mengalir sekalipun musim kemarau.
“Airnya memberikan banyak manfaat. Terutama untuk berwudu tidak pernah kering karena memang terdapat mata air,” katanya.
Burhanudin, warga lainnya menuturkan, Masjid Baitul Arsy ini sudah ada pada zaman penjajahan Belanda dan menjadi tempat persembunyian warga. Hal itu dapat terlihat dari bagian dinding masjid yang terbuat dari papan terdapat lubang, yang diperkirakan bekas peluru yang ditembakan penjajah.
Reporter : Purnama











