Beni mengatakan, aktivitas tidak biasa pada Gunung Anak Krakatau memang dapat menimbulkan rasa cemas pada warga tinggal di pesisir pantai. Hal itu sangat wajar.
“Mengingat adanya bencana tsunami senyap pada 2018 lalu. Tidak terjadi gempa bumi tapi air laut naik ke daratan yang konon katanya bersumber dari Erupsi Gunung Anak Krakatau,” katanya.
Sementara itu, Ade Nurohman warga Cijaku, Kabupaten Lebak mengaku mendengar suara gemuruh tiada henti sampai tadi pagi.
“Ya Allah , suara apa ini ngga henti _ henti gemuruh bergetar seperti petir dari sebelah barat. Apa mungkin iya Anak Gunung Krakatau, terdengar sampe ke Cijaku bagian barat, tepatnya di Kampung Lebak Gintung, Desa Mekarjaya Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak,” katanya.
Suaranya gemuruh terdengar keras seperti mobil Truk Tronton lewat depan rumah.
“Dari hasil pantauan posisi ketika kita berbaring di lantai. Saya masih penasaran dan memastikan dengan menempelkan telinga ke lantai terdengar suara gemuruh dan dentuman menggelegar,” katanya.
Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Cimandur Bayah TB Wildan Hidayatullah menuturkan, dentuman terdengar sampai ke Lebak Selatan pernah dialami saat GAK erupsi 2 tahun lalu.
“Dentuman terdengar dari Kantor Desa Cibarengkok, Kecamatan Panggarangan. Adapun dari Visual dari CCTV Pos PGA Gunung Anak Krakatau Pasauran Banten tanggal 22 April 2022 pukul 23.54, teramati telah terjadi 93 kali letusan strombolian,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor : Ahmad Lutfi











