SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – PT Bank Pembangunan Daerah Banten atau Bank Banten membatalkan rencana pelaksanaan right issue tahun ini. Alasannya, Bank Banten memiliki kecukupan modal dan tingkat likuiditas yang baik.
Direktur Utama Bank Banten Agus Syabarrudin mengatakan, apabila mengacu pada rencana bisnis bank (RBB), maka Bank Banten hingga 2024 membutuhkan permodalan hingga Rp2,4 triliun. “Meski kebutuhan untuk 2023 dan 2024 cukup besar, tapi kami telah memutuskan untuk tak menggelar right issue,” ujar Agus usai peringatan HUT ke 6 Bank Banten, Jumat (29/7).
Agus menargetkan, kebutuhan modal sebesar Rp2,4 triliun itu dapat tercapai dengan dibagi dua pencapaian, yakni sekira Rp1 triliun di tahun 2023 dan di Rp1,5 triliun lagi tahun berikutnya. Untuk saat ini, prosentase permodalan pada Bank Banten masih memadai.
Mantan Direktur Utama Bank Kalimantan Selatan itu menuturkan, tercatat kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) Bank Banten hingga Juni 2022 mencapai 35 persen. Pihaknya juga sudah mengajukan surat ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menunda right issue tahun ini karena modal masih cukup dan likuiditas juga cukup banyak. “Melimpah tahun ini,” tegasnya.
Oleh karena itu, ungkap Agus, right issue rencananya baru akan digelar pada tahun depan seiring dengan rencana ekspansi kredit. Dimana pada 2023 nanti sesuai yang sedang diupayakan ke OJK, eks Bank Pundi itu ingin menyasar kredit ke sektor non konsumer.
Meskipun begitu, target nilai right issue belum diputuskan. Namun, secara umum di dalam RBB sudah terlihat kebutuhan permodalan Bank Banten ke depannya sekira Rp2,4 triliun sampai 2024 nanti.











