Selain fashion show dan loka karya, Dede menuturkan, pihaknya juga membuka kelas akting untuk para penyandang difabel. Kelas akting itu digelar guna meningkatkan rasa kepercayaan diri para penyandang difabel.
“Kita berharap dengan acara-acara ini makin banyak pihak yang bisa merangkul para penyandang difabel, baik itu dari budayawan maupun pihak lainnya. Karena mereka ini memiliki potensinya sendiri, namun yang dibutuhkan mereka saat ini adalah ruang dan rangkulan kita semua,” harapnya.
Dani Juandi, Kepala SKh PGRI Rangkasbitung mengapresiasi Yayasan Guriang Tujuh Indonesia yang sudah memberikan ruang kepada para siswanya untuk berkreasi.
“Kami mungkin mewakili seluruh SKH yang ada di Kabupaten Lebak mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya telah menyempatkan waktunya untuk melatih anak-anak disabilitas. Semoga kedepannya kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut untuk selalu merangkul anak-anak disabilitas di Kabupaten Lebak,” ujarnya.
Terpisah, Dani peserta loka karya penyandang tuna runggu, didampingi oleh Guru SKh 02 Lebak Nining Juaningsih mengaku sangat antusias mengikuti perlombaan loka karya dengan membuat desain pakaian berbahan kain tenun untuk temannya yang sesama penyandang.
Ia mengungkapkan, selama mendesain dan membuat model pakaian dirinya mengalami beberapa kendala khususnya dalam menjahit pakaian. Karena skill dasar dirinya dalam menjahit sendiri sangatlah minim.
“Senang bisa mengikuti lomba ini, walaupun kemarin tuh aga susah buat ngejahitnya. Tapi insyaAllah ini bakal jadi bekal, buat saya belajar dan mengembangkannya lagi,” pungkasnya.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Abdul Rozak












