“Gosip yang beredar itu penyebabnya yaitu karena penyakit DBD. Padahal menurut saya itu tidak logis. Karena nyamuk biang DBD itu berada di dataran rendah. Sedangkan Baduy itu kan dataran tinggi. Dan hasil dari pemeriksaan di lapangan, trombosit mereka juga tinggi. Tidak seperti terkena DBD,” kata Firman.
Pihaknya juga tidak menemukan adanya indikasi penyakit menular di wilayah adat itu. Sebab para nakes yang melakukan penyisiran ke wilayah adat bisa kembali dengan kondisi sehat.
Kepala Puskesmas Cisimeut Dede Herdiansyah mengatakan, berdasarkan informasi, 6 warga Baduy yang meninggal itu berada di rentang usia bayi dan Balita. Hingga usia 15 tahun. Adapun gejala yang dialami mereka yakni batuk, pilek dan diare.
“6 orang yang meninggal itu enggak dalam satu hari, tapi dalam rentang waktu satu bulan dan itu ada 4 kampung berbeda. Untuk gejalanya yang kita dapatkan dari pihak keluarga, bahwa yang bersangkutan mengalami batuk pilek dan diare,” katanya.
Hari ini kata Dede, Puskesmas Cisimeut sudah melakukan pemeriksaan terhadap 25 warga Baduy yang berada di Kampung Cikeusik. Hasilnya bervariatif.
Untuk anak-anak ada yang mengeluhkan batuk dan pilek yang mungkin disebabkan oleh perubahan cuaca. Sedangkan orang dewasa ada yang mengalami sakit lambung, pegal dan pusing.
“Pemeriksaan kesehatan ini sendiri merupakan kegiatan yang rutin kita lakukan setiap bulan melalui program Posyandu. Dimana setiap satu bulan sekali pihaknya akan terjun langsung melakukan kontrol kesehatan warga Baduy,” pungkasnya. (*)
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











