TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah menyelenggarakan Seminar Nasional Olimpiade Bahasa dan Sastra Indonesia dengan kemasan hybrid yakni daring melalui Zoom Cloud Meetings dan luring bertempat di Aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Seminar nasional ini merupakan rangkaian acara dari Olimpiade Bahasa dan Sastra Indonesia (OBSI) yang sudah dimulai sejak tanggal 1 November 2022.
Di dalam rangkaian acara OBSI, terdapat perlombaan pengerjaan soal mengenai wawasan bahasa Indonesia, pengerjaan dan presentasi, esai, perlombaan debat, pameran media pembelajaran digital, dan seminar nasional.
Dengan latar belakang ingin membentuk masyarakat yang cerdas berliterasi, tema seminar nasional mengusung tema “Membangkitkan Minat Literasi di Era Digitalisasi”.
Senior Editor di Russia Beyond dan pegiat bahasa di media sosial Fauzan Al-Rasyid mengatakan, kaidah kebahasaan Indonesia sering kali masih terdapat kekeliruan dalam penulisan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia.
Menurut konten kreator yang menyajikan Pemahaman Bacaan dan Menulis di medsosnya ini, literasi merupakan seperangkat keterampilan
yang nyata, dan fakta di Indonesia menerangkan bahwa dari 1000 orang penduduk di Indonesia, hanya ada satu orang yang hobi membaca.
“Masalahnya adalah bukan hanya bisa baca tulis, tetapi ngerti apa yang dibaca,” ucap pria dengan baju batik kecokelatan tersebut.
Dijelaskan Fauzan, banyak anak Indonesia yang belum bisa memahami sesuatu dengan baik, banyak masyarakat Indonesia yang masih rentan terpapar hoaks atau berita bohong karena mudah menelan informasi yang tidak kredibel.
Menurutnya,untuk menumbuhkan minat literasi ialah dengan banyak membaca sumber bacaan, menggunakan sumber-sumber terverifikasi, cari sumber informasi yang jelas keterangan penulisnya, dan manfaatkan teknologi agar melek dengan apa saja fenomena yang terjadi di luar.
“Contoh pada kasus Sambo, kita harus bisa memetakan bagaimana kronologis persidangannya, kejadiannya,” jelas Fauzan.
Memanfaatkan gawai untuk mengakses informasi yang valid sangat dianjurkan dalam era digitalisasi ini. Boleh saja sesekali untuk mengakses media sosial, tetapi tetap dibarengi dengan mengakses konten yang bermanfaat.
“Perkembangan zaman memang berbeda, ikuti saja. Akan tetapi, harus tetap ada poin literasinya dari apa yang kita bagikan di media sosial,” pungkas Fauzan dalam pemaparan materinya.
Reporter: Daru Pamungkas
Editor: Ahmad Lutfi









