LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak melalui Dinas Sosial Lebak membagikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM.
Namun, pembagian BLT untuk mengatasi kenaikan harga pangan akibat lonjakan harga BBM itu yang dilakukan secara serentak disejumlah kantor Kecamatan di Kabupaten Lebak tidak lah kondusif.
Pembagian BLT senilai Rp600 ribu itu menimbulkan kerumunan. Ribuan warga Lebak berkerumun dan saling berdesak-desakan. Bahkan ada diantaranya yang pingsan lantaran antrean BLT.
Hal itu terpantau di Kecamatan Malimping pada Sabtu (3/12). Pembangian BLT tersebut ricuh, karena membludaknya warga yang datang ke kantor kecamatan. Pembangian sempat ditunda karena kedatangan warga yang tidak kondusif.
Akhirnya lima orang warga pingsan, yang disebabkan karena antrean dan desan dengan warga lainnya yang datang.
Brigadir Togu, anggota Polsek Malingping, mengatakan, awalnya pembagian normal namun kondisi tidak setelah ribuan warga mulai berdesakan.
“Jadi warga terus berdesakan, akhirnya warga banyak pingsan, akibat berdesakan karena datang dari beberapa kecamatan,” kata Brigadir Togu saat dihubungi.
Ia mengungkapkan, pihaknya sebelumnya sudah memberikan himbauan kepada warga, untuk antre secara tertib. Namun imbauan itu tidak diindahkan, warga tetap berdesak-desakan hingga diantaranya mengalami pingsan.
“Banyak warga yang membawa anak kecil, saya juga kasihan itu ibu-ibu banyak yang membawa anak kecil,” ujarnya.
Pembangian BLT di kantor Kecamatan Malingping, datang dari beberapa kecamatan lainnya seperti Kecamatan Wanasalam dan sekitarnya.
Diketahui, warga mulai mengantre dari pukul 08.00 WIB pagi, untuk mendapatkan bantuan BLT, warga yang datang juga ada berjam-jam antre.
Sementara Asep Ridwan warga Kecamatan Malingping, mengatakan, pembangian BLT secara sekaligus tidak efektif.
“Artinya warga dari beberapa kecamatan datang kesini, yang di Malingping saja ada ribuan warga, sehingga akhirnya berdesakan,” katanya saat dihubungi melalui telepon seluler.
Seharusnya, kata Asep panitia membuat jadwal yang memisahkan penerima BLT BBM perkecamatan masing-masing. Hal itu disebut sangatlah efektif untuk menghindari adanya antrean panjang .
“Kedepannya pembagian masing-masing kecamatan saja, jangan disatukan seperti ini, akhirnya membludak,” ujarnya.
“Saya berharap adanya pembagian di kantor kecamatan masing-masing saja, sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Dinsos Lebak, tetapi caranya seperti ini, malah ini menimbulkan banyak orang sakit dan pingsan,” ucapnya.
Reporter: Yusuf Permana











