CILEGON, RADARBANTEN.CO.ID – Warga terdampak kekeringan di Lingkungan Gunungbatur I, Gunungbatur II, dan Tembulum, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon, membutuhkan pasokan air bersih hingga 30 ribu liter setiap hari untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga selama musim kemarau.
Kekeringan yang telah berlangsung sekitar tiga bulan membuat ratusan warga harus mengambil air dari sumber mata air pegunungan setiap hari.
Bantuan air bersih dari pemerintah pun menjadi penopang utama untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan memasak.
Lurah Mekarsari, Fatoni mengatakan, berdasarkan hasil rapat bersama Wali Kota Cilegon, distribusi air bersih akan dilakukan setiap hari selama musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga akhir tahun.
“Kemarau sampai akhir tahun, sesuai hasil rapat kemarin Pak Wali, pengiriman air itu setiap hari harus ngirim,” kata Fatoni pada Kamis, 23 Juli 2026.
Menurutnya, kebutuhan normal air bersih setiap Kepala Keluarga (KK) mencapai sekitar 50 liter per hari.
Dengan jumlah warga terdampak sekitar 600 KK, kebutuhan air bersih mencapai 30 ribu liter atau 30 ton setiap hari.
“Kalau kebutuhan normal, per kepala keluarga minimal butuh 50 liter. Kalau ada 600 KK berarti sekitar 30 ton atau 30 ribu liter air per hari,” ujarnya.
Namun, hingga saat ini, Pemerintah Kota Cilegon baru mampu mendistribusikan sekitar delapan ton atau 8.000 liter air bersih setiap hari karena terkendala medan menuju permukiman warga.
“Didrop oleh Pak Wali kita baru bisa delapan ton air sekarang, karena terhalang medan tempuh,” ucapnya.
Fatoni menjelaskan, proses distribusi dilakukan secara bertahap. Air dari mobil tangki ditampung terlebih dahulu di bawah kawasan perbukitan, kemudian diangkut menggunakan mobil losbak berkapasitas sekitar satu ton menuju permukiman warga.
“Jadi kita ada tangki di bawah, lalu kita angsur menggunakan mobil losbak satu ton satu ton,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kota Cilegon, Ana Maulana mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Bahkan, dampak fenomena El Nino diprediksi membuat musim kemarau berlangsung hingga awal 2027.
“Kalau rilis resmi BMKG, puncak kemarau diprediksi bulan Agustus dan musim kemarau sampai awal 2027 terkait El Nino,” katanya.
Ana menjelaskan, bantuan air bersih yang didistribusikan pemerintah dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mandi, mencuci, dan memasak.
Sedangkan, untuk kebutuhan air minum, warga masih mengandalkan mata air pegunungan.
“Bantuan air bersih itu untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau air minum, mereka tetap mengambil dari sumber air gunung,” ujarnya.
Editor: Agus Priwandono








