TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Sejumlah aktivis yang tergabung dalam Forum Non Government Organization (NGO) Tangerang Raya menggelar unjuk rasa di depan Kantor Walikota Tangerang, Selasa, 20 Desember 2022.
Mereka mendesak Walikota Tangerang Arief R Wismansyah untuk memperbaiki layanan kesehatan, transportasi, dan infrastruktur di Kota Tangerang, yang mereka nilai buruk.
Koordinator aksi Saipul Basri mengungkapkan, selama dua tahun kepemimpinan Arief-Sachrudin, layanan dasar seperti kesehatan tidak menuju kearah yang lebih baik, justru berbagai kasus terus muncul tanpa adanya perbaikan sistem.
“Kasus obat kedaluwarsa menjadi contoh nyata, bahwa layanan kesehatan di Kota Tangerang buruk. Belum lagi layanan di posyandu dan puskesmas masih banyak laporan dan keluhan oleh masyarakat,” ungkap Saipul.
Menurut Saipul, pada bidang infrastruktur, Walikota Tangerang dianggap membuat kebijakan aneh karena membangun jembatan yang menjulang tinggi dan curam, sehingga sering terjadi kecelakaan.
Jembatan ini justru dibangun di pusat Pemerintahan Kota Tangerang, yakni di depan Stadion Benteng Reborn dan di dekat RSUD Kabupaten Tangerang.
“Jembatan ini kan dibuat tanpa memikirkan keselamatan pengendara. Sudah menjulang tinggi dan menukik saat turunan. Secara estetika juga tidak bagus. Dan pembangunan jembatan ini seharusnya tidak menjadi prioritas pembangunan,” ujarnya.
Lebih jauh, Saipul mengatakan terkait layanan transportasi, hadirnya angkot Si-Tayo justru hanya membebani keuangan pemerintah, karena sudah setahun pengoperasiannya masih disubsidi dan tidak pernah untung.
“Sementara kita tahu, angkot ini sepi penumpang. Tapi terus disubsidi, kan sayang uangnya. Kebijakan ini jadi buang-buang anggaran,” ujarnya.
Marcell meduga, kebijakan mengoperasikan angkot Si-Tayo lebih kepada mengakomodir kepentingan-kepentingan dari relasi Walikota.
“Jadi kebijakan Walikota hanya mementingkan kepentingan kelompoknya saja. Artinya tidak memprioritaskan mana yang menjadi kepentingan masyarakat luas,” ujarnya.
Saipul menambahkan, pihaknya mengaku kecewa karena setiap demo tidak pernah ditemui Walikota. Hal ini disayangkan mengingat, seluruh tuntutan mereka merupakan aspirasi dan keluhan yang selama ini disuarakan masyaramat umum.
“Kami menyayangkan sikap acuh Walikota. Kami menginginkan adanya dialog terbuka,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Asisten Daerah (Asda) I Kota Tangerang Deni Koswara yang menemui pendemo mengatakan, pihaknya berjanji akan menampung aspirasi pendemo dan menyampaikannya ke Walikota dan dinas terkait.
Kendati demikian, Deni mengaku belum secara utuh memahami seluruh tuntutan pendemo.
“Kami akan sampaikan tuntutan pendemo ke dinas terkait. Namun saya mohon maaf baru dapat perintah dari pimpinan setelah demo berlangsung. Jadi saya belum sepenuhnya memahami seluruh isi tuntutan,” ujarnya.
Deni berujar bahwa Walikota dan Wakil Walikota meski berhalangan menemui pendemo, namun akan menerima segala masukan dari pendemo. “Di akhir masa kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota, tuntutan layanan dasar menjadi fokus utama mereka,” tandasnya.
Reporter: Syaiful Adha.











