“Ada beberapa yang masuk dan memiliki perwakilan di DPRD seperti Partai Hanura dan Partai Berkarya,” katanya.
Pria yang kini aktif mengajar di Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Untirta itu menjelaskan, ada tiga faktor yang dominan mempengaruhi tingkat keterpilihan calon legislatif (Caleg) dalam sistem proporsional terbuka.
Pertama, figur caleg. Bagi parpol besar atau yang sering menguasai kursi DPRD lebih berpeluang meraih kembali kursi, karena memiliki figur dikenal, diingat dan dipilih.
Kedua, mesin parpol atau jaringan. Jika, parpol memiliki mesin dan jaringan yang kuat, dan bisa mendelivered tugas secara proporsional atau merata, maka bukan tidak mungkin mudah memenangkan Pemilu.
Kemudian, ketiga, logistik. Penggunaan alat peraga kampanye yang mampu mendeliver caleg dan parpol, masih menjadi salah satu faktor penentu. Dimana, dalam beberapa momentum penggunaan alat peraga masih berpengaruh.











