Dari jumlah tersebut, dalam kurun 2021-2023, di lintas Rangkasbitung ke Jakarta dan sebaliknya, tercatat lima stasiun paling aktif. Itu mencakup Stasiun Rangkasbitung, Rawabuntu, Kebayoran, Sudimara, dan Palmerah.
Terutama di Palmerah, volume penumpang mencapai 7.263.677 dalam kurun 2021 hingga awal tahun 2023. Patut dicatat juga, rata-rata penumpang dari Rangkasbitung adalah kalangan pekerja dan mahasiswa. Teranyar, volume penumpang dari jalur Rangkasbitung mencapai 4,5 juta penumpang.
Dari sisi angka terkini yang menggambarkan volume per lintas, per Januari 2023, dari lini Bogor saja mencatat 10,4 juta. Dari Bekasi /Cikarang mencatat 5,9 juta, dan lini Tangerang mencapai 1,5 juta penumpang. Pergerakan tersebut berkorelasi langsung dengan kegiatan perekonomian
Pasalnya, sebagian besar pengguna bepergian untuk keperluan ekonomi, bekerja sebagai pekerja harian lepas, pegawai pemerintah, pegawai swasta, hingga para pedagang keliling dan pedagang kaki lima. Praktis ini menjadi indikator bahwa mobilitas masyarakat, terutama pengguna KRL, sekaligus membantu berlangsungnya perputaran uang di kota-kota yang menjadi destinasi penumpang.
“Terlebih sejak pandemi semakin melandai, animo masyarakat beraktivitas semakin tinggi, daya beli membaik, hingga berdampak positif pada penjualan di pusat perbelanjaan, seperti Tanah Abang, Sudirman, bahkan Kota Tangerang sampai ke Bogor dan Bekasi,” ucapnya.
Ditambah lagi, beberapa stasiun yang terjangkau oleh KRL sendiri tercatat berada di dekat kawasan- kawasan di mana perekonomian masyarakat berlangsung. Maka itu, keberadaan KRL tak hanya identik dengan mobilitas, tetapi juga identik dengan aktivitas perekonomian.
Sebut saja di DKI Jakarta, berdasarkan data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta (BPS DKI 7 November 2022), pertumbuhan ekonomi mencatat kenaikan hingga 5,94 persen (triwulan III 2022). Secara year on year angka itu bahkan melampaui proyeksi RKPD yang bertumbuh dikisaran 5-5,4 persen.











