“Juga dari catatan BPS DKI, adanya peningkatan konsumsi pada kelompok transportasi dan komunikasi, dinilai berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi tersebut. Maka itu, perlu digarisbawahi kembali bahwa keberadaan Commuterline tidak saja membantu pergerakan penduduk, melainkan juga turut membawa dampak ekonomi, secara langsung atau tidak langsung,” tuturnya.
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang selama ini tercatat berkontribusi paling besar terhadap pertumbuhan ekonomi pun tak bisa lepas dari andil transportasi, terutama KRL di wilayah-wilayah yang terjangkau. Pasalnya, mobilitas itu juga membantu pelaku UMKM di kawasan stasiun (luar dan dalam),
hingga pegiat UMKM sendiri yang mengandalkan KRL untuk aktivitas mereka sehari-hari.
Ditambah lagi dengan dampak terhadap ekonomi industri yang berkembang di kota-kota seperti Bekasi hingga Cikarang dan Jakarta Utara, tak lepas juga dari peran KRL.
“Minimal dalam membantu para pekerja harian lepas atau karyawan efektif dan efisien untuk keperluan transportasi. Ringkasnya, keberadaan Commuterline semestinya juga dapat dilihat sebagai salah satu variabel yang cukup menentukan terutama pasca pandemi, terlebih dalam upaya semua kalangan untuk memulihkan ekonomi nasional,” imbuhnya.
PT KAI Commuter sejauh ini masih terus berupaya maksimal agar andil Commuterline dapat semakin meluas, selain juga di kota-kota yang terjangkau seperti Jabodetabek hingga Solo dan Yogyakarta yang saat ini juga menunjukan peningkatan minat masyarakat dengan Total pengguna sebanyak 705.925 orang sepanjang tahun 2023 ini.
“Commuterline telah berperan dalam membantu proses pemulihan hingga pertumbuhan ekonomi melalui ranah transportasi yang murah dan terjangkau oleh segala lapisan masyarakat, lintas profesi, dan membantu lintas dunia usaha,” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor : Mastur











