SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Publik saat ini tengah dibuat heboh dengan kasus pembunuhan yang dilakukan seorang mantri bernama Suhendi kepada Kades Curuggoong Salamunasir.
Pasalnya, pembunuhan yang dilakukan oleh Suhendi berbeda dengan pembunuhan lain yang biasanya menggunakan benda tajam maupun tumpul. Pembunuhan yang dilakukan mantri ini dengan cara menyuntikan suatu cairan kepada korbannya.
Usut punya usut, cairan yang diduga disuntikan pelaku kepada korban ialah cairan jenis obat diphenhydramine.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten dr. Dendi menjelaskan, diphenhydramine adalah obat untuk meredakan gejala alergi dan batuk pilek (common cold).
Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk mengatasi mabuk perjalanan, serta kondisi tremor dan kaku otot pada penderita Parkinson.
“Obat ini sebetulnya tidak berbahaya, dan bahkan umum digunakan sebagai obat alergi, ” kata dr. Hendi kepada RADARBANTEN.CO.ID, Senin, 13 Maret 2023.
Walaupun tidak berbahaya, lanjut dia, namun jika obat itu dikonsumsi di atas dosis dan juga korban sensitif terhadap obat alergi akan berbahaya.
Katanya, normalnya tubuh manusia dianjurkan mengkonsumsi obat ini maksimal sebanyak 300 mililiter (ml) per hari. {enyuntikan cairan itu dilakukan secara betahap dengan 4-6 kali suntikan.
“Nah jika disuntikan dengan dosis tinggi dan korban punya alergi terhadap obat, maka ini akan menyebabkan kejang-kejang dari bawah kaki, pandangan buram dan jantung bedetak dengan kencang, yang akan berakhir dengan koma atau bahkan meninggal dunia, ” katanya.
Menurutnya, penyuntikan obat ini merupakan hal yang wajar dilakukan di lingkungan rumah sakit. Biasanya masyarakat umum mengkonsumsi obat itu yang berjenis tablet.
Jika terjadi overdossis, lanjut dia, korban sebetulnya masih bisa ditolong dengan beberapa penanganan.
“Sebetulnya masih bisa, tapi kan kita tidak tau sebelumnya itu cairan apa yang disuntikan. Karena kan kalau di rumah sakit kita tahu, karena tertulis cairan apa saja yang disuntikan, tapi dalam kasus ini kan tidak di rumah sakit,” ungkapnya.
Perihal status Suhendi yang disebut merupakan pegawai RSUD Banten, dr. Hendi mengaku tidak tahu.
“Kalau statusnya kita belum tau jelas, ” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Aas Arbi











