Asas ini bahkan bisa dipraktikkan kepada orang dewasa dengan teknik yang kita kenal sebagai brain washing (cuci otak). Dengan cara itu, orang normal bisa dibentuk menjadi radikal dan teroris (termasuk bom bunuh diri) untuk tujuan politik, baik yang berdasarkan ajaran ideologi tertentu maupun yang berdasarkan ajaran agama tertentu.
Saat ini para peneliti kepribadian setuju bahwa kepribadian adalah hasil dari kontribusi lingkungan dan bawaan. Dari sudut pandang bawaan, para peneliti beranjak pada penelitian terhadap otak.
Temuan ini dikuatkan dengan penelitian pada tikus yang hidup di kandang yang penuh dengan mainan, lorong dan sejenisnya, diketahui memiliki sambungan neuron-neuron yang lebih banyak dan lebih cepat belajar.
Sebaliknya bahwa anak seorang dosen akan menjadi dosen juga, membuktikan bahwa lingkungan pun ada pengaruhnya.
Yang kurang dapat diterima adalah pendapat bahwa faktor pembawaan atau faktor lingkungan mutlak memengaruhi perkembangan kehidupan seseorang.
Kedua faktor itu sama berpengaruhnya. Pendapat terakhir ini dikenal sebagai teori konvergensi, dengan tokohnya William Stern. Beberapa percobaan dapat membuktikan teori konvergensi ini.
Ilmuwan asal Inggris, Francis Galton membuktikan bahwa dua orang anak kembar identik, jika dididik dan dibesarkan dalam keluarga dengan lingkungan yang berbeda, akan mengembangkan sifat-sifat yang juga berbeda. Makin besar perbedaan lingkungannya, makin besar pula perbedaan sifat kedua anak kembar itu.
Jadi, pengaruh lingkungan cukup besar pada kedua anak itu. Di sisi lain, seseorang dengan taraf kecerdasan yang tergolong terbelakang, jika diberi didikan yang sistematis untuk menguasai pelajaran-pelajaran sekolah menengah, tidak akan menunjukkan kemajuan yang berarti sampai masa percobaan itu usai.
Jadi, terbukti dari kedua percobaan di atas bahwa lingkungan boleh berpengaruh terhadap perkembangan inteligensi seseorang. tetapi dalam batas-batas bawaan yang ada.
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Abdul Rozak











