Oleh : Taufik Hidayatullah, warga Serang
Dinamika kehidupan masyarakat Indonesia sejatinya memiliki banyak ruang lingkup kehidupan. Berangkat dari dunia nyata menuju dunia maya. Jagat maya dalam momentum Idul Fitri sudah seyogyanya memiliki efek moralitas yang berkeadaban.
Intelektualitas semata tanpa dibarengi moralitas yang berkeadaban sejatinya bagaikan pohon yang terus menjulang tinggi tumbuh namun tak berbuah.
Momentum Idul Fitri 1444 Hijriah harusnya menjadi ajang konsensus kebangsaan dalam ruang lingkup tanpa batasan, baik dunia nyata maupun maya.
Ajang bertegur sapa lewat platform media digital seharusnya menjadi alat untuk bersilaturrahmi bagi yang berjauhan lintas ruang dan waktu.
Perbedaan cara pandang furuiyyah beragama seharusnya menjadi khazanah keislamaan dengan segala kekayaanya. Dikarenakan Islam lahir dengan beragam warna madzhab. Sebut saja, Maliki, Syafii, Hambali, Hanafi.
Khazanah keilmuan yang begitu amat luas seharusnya dirawat dengan intensitas kultur beragama yang hangat nan sejuk. Bukan justru dengan mendikotomi satu dan lainya.
Wadah keberagaman madzhab sejatinya menunjukkan bahwasanya Islam sebagai agama yang notabene rahmat bagi alam semesta, memiliki berbagai dimensi dengan lintas Negara yang memiliki lintas iklim berbeda pula.
Olehkarenanya ikhtilaf (perbedaan) tidak saja menyasar perbedaan penganut keagamaan di Indonesia yang mesti dibalut dengan toleransi antar umat beragama agar supaya tali ukhuwah antar warga bangsa dapat terjalin erat dan harmoni.
Namun justru ranah keagamaan umat Islam sendiri nyatanya memiliki ikhtilaf (perbedaan) yang sifatnya furu (cabang). Hal sedemikian rupa merupakan hal lumrah dalam Islam sedari dulu.
Sehingga dalam hali ini penulis ingin menutup untaian jahitan tulisan ini dengan mengutip perkataan dari apa yang telah diwasiatkan oleh al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna:
نعمل فيما اتفقنا ونعتذر فيما اختلفنا
‘’Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya’’.
Wallahua’lam











