RADARBANTEN.CO.ID – Sebelum membahas tentang akibat petasan bagi kondisi kesehatan, kita cari tahu dulu yuk dari mana asal-usul petasan.
Sekitar abad kesembilan, orang-orang Tiongkok percaya bahwa ledakan yang keras dapat mengusir roh jahat.
Ada beberapa jenis petasan yang dipakai dalam acara / perayaan penting seperti pernikahan, perayaan kemenangan perang dan upacara-upacara keagamaan.
Pabrik petasan pertama didirikan pada masa dinasti Song dan menjadi pusat produksi kembang api pada masa itu.
Setelah tradisi petasan di Tiongkok, akhirnya menyebar ke seluruh penjuru negeri. Di Indonesia, tradisi membunyikan petasan biasa kita temui di perayaan pernikahan budaya Betawi.
Belakangan warganet ramai memperbincangkan seorang bayi berusia 38 hari meninggal setelah mendengar bunyi petasan.
Bayi malang tersebut dinyatakan meninggal setelah mendengar ledakan keras petasan yang dibakar oleh tetangga sebelah rumahnya.
Akibat bunyi ledakan keras tersebut sang bayi mengalami kejang-kejang kemudian dibawa ke rumah sakit.
Pihak rumah sakit memberikan keterangan bahwa meninggalnya bayi dikarenakan mengalami pecah pembuluh darah karena ada benturan, kaget mendengar suara keras.
Suara yang keras yang didengar oleh telinga manusia tentu dapat merusak pendengaran. Sebetulnya seberapa keras sih suara yang dapat merusak telinga?
Bunyi memiliki tingkatan frekuensi adn tidak semua suara bisa didengar oleh telinga manusia.
Suara dengan frekuensi yang terlalu keras akan menyebabkan gangguan pada fungsi pendengaran manusia.
Menurut artikel dari US National Library of Medicine, pendengaran pada orang yang masih muda dan sehat dapat mendengar bunyi dengan frekuensi antara 20-20.000 Hz.











