Dunia saat ini menuntut serba digital. Penyebaran informasi pun tak hanya melalui media mainstream. Perkembangan teknologi melalui dunia digital seiring juga dengan pesatnya kemajuan internet. Dalam genggaman, seseorang dapat mengakses informasi apa pun dan di mana pun. Tak terbatas ruang dan waktu. Pemanfaatan teknologi informasi menjadi sebuah keharusan.
Koran, salah satu media mainstream saat ini masih eksis keberadaannya. Tantangan terberatnya adalah menghadapi digitalisasi media. Tak banyak pengelola media cetak yang mampu bertahan. Sebut saja Republika, yang menemui masa senjanya pada akhir 2022. Koran yang sudah berkiprah selama 30 tahun ini, harus ‘pamit’ pada 31 Desember 2022 ketika menerbitkan edisi cetak untuk terakhir kalinya. Manajemen Republika memutuskan untuk bertransformasi seluruhnya menjadi platform digital. Republika pada akhirnya menguburkan koran edisi cetak sesuai dengan kebutuhan zaman.
Tak hanya Republika, koran Tempo yang diterbitkan PT Tempo Inti Media harus mengakhiri edisi cetak lebih dahulu pada akhir 2020. Koran Tempo kemudian menerbitkan platform digital mulai 1 Januari 2021. Secara umur koran Tempo sudah berkiprah selama 19 tahun sejak pertama kali terbit pada 2 April 2001.
Tak hanya menimpa para penerbit surat kabar skala nasional yang harus menutup edisi cetaknya, untuk bertransformasi ke platform digital dengan dalih untuk tren global serta memenuhi kebutuhan pembaca. Puluhan koran di bawah holding Jawa Pos Group pun harus menelan pil pahit untuk berhenti beroperasi.
Penerbit surat kabar harus tetap mewaspadai perkembangan teknologi dan media baru yang nyaris tak terkendali lagi. Sebab bagi industri surat kabar, ancaman yang paling nyata adalah bergesernya pola konsumsi terhadap surat kabar ke media online. Kedua media massa ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Surat kabar memiliki keunggulan dalam hal kedalaman berita dan kearsipannya. Namun di sisi lain, surat kabar dikesankan lambat, karena informasi yang sudah dibombardir melalui televisi dan media online baru dapat dinikmati pembaca pada keesokan harinya. Sementara untuk media online memiliki keunggulan cepat dan lengkap. Kelemahan media online antara lain soal akurasi berita.
Untuk menghadapi ketatnya persaingan media, media cetak dan online harus saling bersinergi. Pada era konvergensi media saat ini. Perusahaan penerbit surat kabar tak bisa hanya mengandalkan satu media. Misal, hanya koran atau sebatas pada media online.
Masih eksisnya koran dan media cetak lainnya pernah dirilis Nielsen Consumer & Media View pada kuartal III Tahun 2017. Nielsen mengungkapkan saat ini media cetak memiliki penetrasi 8% dan dibaca oleh 4,5 juta orang. Dari jumlah tersebut, 83%-nya membaca koran.
Berdasarkan profil pembaca, media cetak di Indonesia cenderung dikonsumsi oleh konsumen dari rentang usia 20-49 tahun (74%), memiliki pekerjaan sebagai karyawan (32%), dan mayoritas berasal dari kelas atas (54%). Fakta ini mengindikasikan pembaca media cetak masih produktif dan dari kalangan yang mapan. Nielsen juga menemukan pembaca media cetak merupakan pembuat keputusan dalam rumah tangga untuk membeli sebuah produk (36%). Selain itu, konsumen media cetak diketahui mempunyai hobi membaca buku, cenderung menyukai traveling. Walaupun masih setia pada media cetak, para pembaca media cetak juga mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga menggunakan internet dalam kehidupan sehari-hari
Sadar dengan pesatnya kemajuan teknologi dan digitalisasi informasi, Radar Banten terus berbenah. Dalam kurun dua tahun terakhir tantangan itu terus dihadapi. Badai pandemi Covid-19 yang sempat menghantam, tak menyurutkan tekad kuat kami di Radar Banten untuk terus bangkit dan berkarya.
Konvergensi media dilakukan, sebagai upaya mentransformasikan diri memenuhi tantangan tersebut. Platform media digital yang sudah lama dikembangkan Radar Banten sejak 2015 yakni radarbanten.co.id saat ini menjadi wahana memperkuat koran. Kecepatan informasi yang diperlukan masyarakat, kami jawab lewat portal online tersebut. Berbagai informasi setiap menit disajikan, mulai dari berita politik, pemerintahan, sosial, hingga artikel-artikel informasi atau kami biasa sebut dengan berita evergreen. Tak hanya itu, digitalisasi media untuk memperkuat koran kami lakukan dengan penyebaran informasi melalui media sosial dan YouTube. Tren-tren terbaru penyebaran informasi kami kembangkan seperti podcast.
Sementara bagi penikmat koran, jangan khawatir. Kami akan tetap ada dengan dua format pilihan. Bagi yang masih ingin bercengkrama dengan kekhasan membuka lembaran-lembaran koran, Radar Banten tetap memanjakan para pembacanya dengan koran versi fisik. Namun, bagi yang tidak ingin ribet, pembaca tinggal menikmati versi digital paper atau e-paper. Cara membacanya tentu berbeda, yakni melalui smartphone atau gadget.
Perubahan-perubahan ini, tentu tidaklah mudah kami lakukan. Ada berbagai pembenahan yang dilakukan di internal. Salah satunya yaitu perubahan pola kerja redaksi terhadap sumber daya manusia di Radar Banten. Yakni para reporter dan redaktur. Bagi reporter, perubahan tersebut terjadi pada waktu deadline pengiriman berita ke tingkat redaktur. Sebelumnya, pola kerja redaksi media cetak, deadline ditentukan pada malam hari mulai pukul 20.00 hingga pukul 24.00 WIB. Saat ini, sistem deadline ditentukan secara real time yakni ketika reporter selesai meliput satu peliputan berita.
Dari seluruh berita yang dikirim reporter di news room tersebut, redaktur koran kemudian mengolah berita-berita yang layak untuk diolah kembali untuk diterbitkan pada edisi cetak keesokan harinya. Berita-berita tersebut mendapat sentuhan editing kembali mulai dari penentuan judul, angel berita, sampai dengan pemilihan foto yang layak untuk dimuat. Meskipun secara penyampaian informasi lebih lambat dari media online, namun kami meyakini jika akurasi informasi dan data yang valid tetap mendapatkan kepercayaan di hati para pembaca.
Upaya menjawab tantangan zaman tersebut tentunya tidak akan puas kami lakukan sampai di situ. Keberadaan koran Radar Banten akan tetap menjadi sebuah keniscayaan. Walaupun sejumlah pengamat memprediksi sejak belasan tahun silam bahwa keberadaan koran akan punah dan tergantikan.
Kami meyakini meski kecepatan informasi saat ini mudah didapat melalui digitalisasi media, keberadaan koran tetap akan ada. Kami pun meyakini di tengah terpaan informasi yang sangat cepat melalui media online dan medsos, kepercayaan informasi yang disajikan koran masih dinanti. Karena berita yang cepat belum tentu akurat, tapi yang terkonfirmasi jauh lebih baik dan meyakinkan. Ketika arus informasi melalui media online dan medsos yang begitu deras, masyarakat memerlukan sebuah clearing house. Pada saat masyarakat tidak percaya pada berita apa pun yang disajikan medsos tersebut maka koran menjadi pilihan. Sebab berita yang muncul di koran, melalui proses yang terpercaya.
Di ujung catatan ini, izinkan kami terus ‘BERBUNGA’ (Bersama Berkarya untuk Bangsa) sesuai tagline HUT ke-23 Radar Banten. Dengan tetap menyajikan berita-berita yang akurat, berimbang dan terpercaya.
Aditya Ramadhan, Redaktur Pelaksana Radar Banten











