TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Banten menyakini bahwa program Bangga Kencana akan bisa menekan angka stunting di Provinsi Banten.
Hal itu disampaikan oleh Plh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Banten, Ubang Sobari saat melakukan sosialiasi dan promosi KIE program Bangga Kencana dan percepatan penurunan stunting bersama mitra kerja Komisi IX DPR RI diGedung Serbaguna Balaraja, Desa Saga, Kecamatan Balaraja Kabupaten Tangerang, Kamis 20 Juli 2023.
Ubang mengatakan, program Bangga Kencana atau pembangunan keluarga, kependudukan dan keluarga berencana merupakan salah satu upaya peningkatan kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui empat program utamanya yaitu pendewasaan usia perkawinan (PUP), Peningkatan kesehatan reproduksi (Kespro) , pengaturan kelahiran dan peningkatan ekonomi keluarga.
“Peningkatan kesejahteraan keluarga tentunya akan berdampak pada penurunan stunting nantinya, makanya program Bangga kencana dan stunting sangat erat kaitanya,” ucap Ubang.
Dalam acara itu, pihaknya pun turut memberikan edukasi kepada masyarakat terkait stunting sehingga diharapkan di tahun 2024 angka stunting turun menjadi 14 persen sesuai dengan arahan Presiden RI.
Katanya, di tahun 2021 kemarin angka stunting di Banten berada di angka 24,5 persen, dan di tahun 2022 menurun hingga angka 20 persen. Hal tersebut berdasarkan hasil survei status gizi Indonesia yang dilakukan pada tahun 2022.
“Alhamdulillah berkat dukungan semuanya, Hasil Survei Status Gizi Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan angka penurunan di Provinsi Banten, yang sangat signifikan. Dari 24,5 persen, menjadi 20 persen. InsyaAllah angka stunting bisa kembali turun hingga 14 persen,” ungkapnya.
Ubang menyampaikan bahwa peran keluarga sangat penting dalam mencegah stunting, dimana stunting dapat dicegah melalui 3 hal, yakni pola makan yang sehat dan bergizi, pola asuh yang baik dan sanitasi dan akses air bersih.
Anggota Komisi IX DPR RI, Muhammad Rizal mengungkapkan akan pentingnya pencegahan stunting dengan cara memperhatikan asupan gizi anggota keluarga. Selain itu, Rizal juga mengingatkan kepada masyarakat bayi yang baru lahir agar diberikan asi eksklusif dan rutin membawa balitanya ke posyandu.
“Di posyandu balita akan dicek tumbuh kembangnya, diberikan vitamin jadi terpantau pertumbuhan dab perkembangannya, jadi kalau ada yang terindikasi anak tersebut stunting cepat dilakukan intervensi,” ucap Rizal.
Pihaknya juga terus mengupayakan program percepatan penurunan stunting dapat langsung menyentuh masyarakat, salah satunya melalui kegiatan sosialiasi ini antara BKKBN dengan Komisi IX DPR RI yang membidangi kesehatan.
Sementara itu, Kepala Dinas DPPKB Kabupaten Tangerang dr. Hendra Tarmizir dalam menyampaikan bahwa stunting diakibatkan kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang.
“Stunting bukan penyakit, tidak dapat diobati, hanya dapat dicegah itupun tidak boleh lebih dari masa 1000 hari pertama kehidupan (HPK),” katanya.
Lebih lanjut, dr Hendra mengatakan, pada periode ini, otak dan tubuh bayi sedang berkembang pesat, sehingga jika terjadi masalah gizi akan berpengaruh juga pada perkembangan otak dan tubuh bayi.
“Pemenuhan gizi di 1000 HPK sangat penting, sebab jika tidak dipenuhi asupan nutrisinya, maka dampaknya pada perkembangan anak akan bersifat permanen,” pungkasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Abdul Rozak











