PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Pandeglang mengklaim bahwa capaian program Metode Operasi Pria (MOP) atau KB pria pada 2025 menembus lebih dari 80 persen dari target yang ditetapkan.
Meski kuota peserta terbatas, minat masyarakat untuk mengikuti program vasektomi ini disebut meningkat dibanding periode sebelumnya.
Kepala Bidang Keluarga Berencana DP2KBP3A Pandeglang, Imas, mengatakan pada 2025 jumlah akseptor MOP mencapai 12 orang. Capaian tersebut didorong oleh adanya momentum pelayanan terpadu yang digelar oleh perwakilan BKKBN Provinsi Banten.
“Tahun 2025 alhamdulillah peminat MOP cukup banyak. Total yang sudah menjalani MOP ada 12 orang. Capaian kita tahun kemarin bisa di atas 80 persen,” kata Imas saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis, 5 Maret 2026.
Ia menjelaskan tingginya capaian tersebut tidak lepas dari kegiatan bakti sosial pelayanan KB yang digelar BKKBN di wilayah Kecamatan Menes. Dalam kegiatan itu, target daerah turut terbantu oleh kuota pelayanan dari tingkat provinsi.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada 2026 target MOP Kabupaten Pandeglang hanya tiga akseptor, sesuai ketetapan pemerintah pusat.
“Tahun ini target kita hanya tiga orang. Target itu memang sudah ditentukan dari pusat untuk masing-masing kabupaten/kota, salah satunya karena keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Meski target relatif kecil, pihaknya optimistis realisasi bisa melampaui angka tersebut. Upaya itu dilakukan melalui kerja sama dengan BKKBN perwakilan Provinsi Banten serta peningkatan sosialisasi di masyarakat.
DP2KBP3A juga terus menggencarkan edukasi melalui penyuluh KB di tingkat kecamatan hingga desa. Sasaran utama sosialisasi adalah pasangan keluarga yang istrinya tidak menggunakan alat kontrasepsi, sehingga suami didorong berpartisipasi melalui MOP atau penggunaan kondom.
“Kalau rasa takut pasti ada. Tapi kami terus memberikan pemahaman bahwa KB pria itu aman dan efektif sebagai metode kontrasepsi jangka panjang,” jelasnya.
Selain pelayanan medis, pemerintah daerah juga memberikan insentif berupa uang pengganti tidak bekerja bagi peserta MOP sebagai bentuk dukungan.
Meski capaian MOP cukup baik pada 2025, partisipasi KB pria secara umum masih tergolong rendah. Saat ini, penggunaan kondom di Pandeglang tercatat sekitar 26 persen.
“Memang peminat KB wanita masih lebih banyak dibanding pria. Ketersediaan kondom cukup, tapi peminatnya belum tinggi,” katanya.
Untuk mendukung pelayanan KB, DP2KBP3A rutin mengusulkan kebutuhan alat kontrasepsi kepada BKKBN Provinsi Banten. Setiap pengajuan, pihaknya meminta sekitar 3.000 dosis suntik dan 3.000 paket pil KB. Sementara untuk kondom, pengusulan berkisar antara 100 hingga 300 gros per periode pelayanan, dengan satu gros berisi 20 kotak kecil. Adapun alat kontrasepsi jangka panjang seperti IUD dan implan, ketersediaannya menyesuaikan stok di tingkat provinsi.
Di sisi lain, capaian KB wanita di Kabupaten Pandeglang tergolong tinggi. Pada 2025, realisasi kontrasepsi metode jangka panjang (MKJP) hampir menyentuh 100 persen dari target yang ditetapkan. Untuk kontrasepsi non-MKJP seperti suntik dan pil, realisasinya bahkan melampaui target hingga lebih dari 120 persen.
“Antusias masyarakat untuk ber-KB sangat bagus. Harapannya ke depan partisipasi pria juga semakin meningkat agar tanggung jawab perencanaan keluarga tidak hanya dibebankan kepada perempuan,” pungkasnya.
reporter: Moch Madani











