SERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Selama periode Januari hingga Juli 2023, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang mendapati sebanyak 141 kasus kusta di semua kecamatan di Kabupaten Serang.
Kasus Kusta yang terjadi didominasi oleh kasus kusta basah yang mencapai 137 kasus sementara untuk kusta kering hanya ada empat kasus.
Dari data tersebut, kasus kusta banyak terjadi di wilayah Kecamatan Tirtayasa yakni sebanyak 14 kasus, Kecamatan Pontang 13 kasus, Cikeusal 11 kasus, Jawilan sembilan kasus, Ciruas sembilan kasus, Bandung delapan kasus, Pulo Ampel delapan kasus dan kecamatan lainnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Serang Istianah Hariyanti mengatakan, kusta merupakan salah satu penyakit yang dapat menular melalui udara, kontak erat antar penderita dengan non penderita dan sebagainya.
“Dalam upaya memutus mata rantai kusta pemerintah pusat memberikan kemoprofilaksis kusta atau obat rifampisin untuk mencegah infeksi yang nantinya dapat menurunkan jumlah penderita baru kusta dengan cara memutus mata rantai penularannya,” katanya, Rabu 26 Juli 2023.
Ia mengatakan sasaran dari pengobatan tersebut ialah difokuskan pada orang yang kontak erat dengan penderita kusta baik di rumah, tempat kerja, sekolah, maupun lingkungan sekitar, serta anak usia dua tahun keatas.
Berdasarkan data yang dimilikinya, pasien yang kontak dengan pasien kusta sejak 2020 hingga 2022 mencapai 7.251 pasien. Paling banyak dari Kecamatan Pontang ada 620 orang, dilanjut Kecamatan Binuang 603 orang, Tanara 480 orang, Jawilan 440 orang, dan kecamatan lainnya.
“Orang yang kontak erat dengan penderita kusta, tidak langsung terkena kusta, tapi awalnya akan timbul sakit bisa sampai satu hingga lima tahun. Sehingga, kita cegah sebelum timbul rasa sakit tersebut,” jelasnya.
Istianah mengatakan, virus yang ada pada kusta ini tidak beda jauh dengan virus TBC, dengan ciri-ciri penularan masuk melalui pernafasan atau udara dari penderita kusta. Kemudian, gejala yang sering ditemukan yaitu adanya bercak keputihan dan kemerahan namun mati rasa pada kulit.
“Kita seringkali melihat ada orang yang kulitnya itu putih seperti susu, bisa jadi orang tersebut sedang menderita kusta. Karena, ciri-cirinya kalau dicubit maupun dibakar itu tidak akan terasa sakit. Kemudian, ciri lainnya adanya kelainan syaraf karena yang di serang oleh virus kusta itu persyarafannya,” ujarnya.
Ia mengatakan, sekitar 80 persen orang terkena kusta ini akibat tertular dari penderita kusta yang tidak diketahuinya.
Kemudian, faktor lainnya itu dari lingkungan yang kotor menimbulkan risiko kuman datang sehingga mudah menyerang tubuh, dan daya tahan tubuh juga menentukan tertular atau tidaknya terhadap kusta.
“Tapi yang paling rentan terkena itu, kontak erat dengan si penderita kusta, dan pengaruh genetik juga dapat terkena yang nantinya bisa turun menurun. Kemudian, faktor lingkungan yang buruk akan menimbulkan resiko kuman datang dan mudah menular, apalagi dengan kepadatan daerah yang kumuh,” ucapnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Abdul Rozak











