TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Ketua Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Kota Tangsel, Wahyunoto Lukman, ikut menanggapi berita tidak lolosnya Lila Rahmadhani masuk SMAN 9 KotabTangsel. Padahal, Lila adalah siswa berprestasi di bidang kepramukaan dengan tiga penghargaan sertifikat dan tujuh piala.
Menurut Wahyu, dalam persoalan ini pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa. Sebab, kewenangan menentukan lolos tidaknya siswa ada di tangan Dinas Pendidikan Provinsi Banten dan pihak sekolah.
“Yang mengelola sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) itu Pemerintah Provinsi Banten, tentu sisten PPDB sudah ada kuota atau ketentuan lain yang menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi,” ujar Wahyu yang saat ini menjabat Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel, Minggu, 30 Juli 2023.
Wahyu menyarankan agar persoalan ini dikonfirmasi ke pihak sekolah dan Pemerintah Provinsi Banten, agar dapat dicarikan solusi terbaik.
“Boleh dikonfirmasi ke pihak sekolah atau Pemerintah Provinsi Banten,”ujar Wahyu.
Wahyu menjelaskannbahwa prestasi Pramuka adalah prestasi non akademik, sama seperti prestasi atlet olahraga atau prestasi non akademik lainnya.
Sebelumnya diberitakan, kisah memilukan terjadi pada diri Lila Rahmadhani, siswa berprestasi yang tidak lolos masuk ke SMAN 9 Kota Tangsel.
Lila merupakan siswa beprestasi, terutama di bidang kepramukaan. Sederet sertifikat penghargaan telah ia dapatkan selama menekuni kegiatan kepramukaan, di antaranya sertifikat juara bergilir, juara 1 LKBBT putri, dan sertifikat Juara 1 Pionering putri.
Ia juga telah mengemas tujuh piala karena berhasil mempertahankan ranking sejak duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah sampai Madrasah Tsanawiyah.
Ayah Lila, Supriyanto, mengatakan bahwa anaknya terus murung di kamar mendengar tidak bisa masuk ke SMAN 9 Kota Tangsel.
Ia mengakui mental anaknya drop ketika mengetahui kabar tidak lolos ke SMAN 9 Kota Tangsel.
“Sekarang anak saya hanya berdiam diri di kamarnya, dia belum mau sekolah sekarang, karena dia pingin sekali masuk ke SMAN itu,” ujar Supriyanto ditemui di rumahnya di Kampung Cilalung, Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, Jumat, 28 Juli 2023.
Supriyanto mengatakan, saat awal pendaftaran PPDB ia mencoba mendaftarkan anaknya melalui jalur zonasi. Bukan tanpa alasan, ia mendaftar melalui jalur zonasi karena diawal telah mendapat informasi bahwa pendaftaran tidak bisa melalui jalur prestasi.
“Setelah mendapat informasi itu, saya sudah minder duluan, akhirnya saya masuk melalui jalur zonaisi dan tidak lolos,” ujarnya.
Menurut Supriyanto, ia justru menemukan seorang anak yang rumahnya lebih jauh ke sekolah ketimbang dari rrumahnya, justru lolos.
Supriyanto mengatakan, ia terus berupaya mencoba keberuntungan dengan membawa sejumlah sertifikat dan piala anaknya ke SMAN 9 Kota Tangsel, tapi mendapat penolakan.
“Kata orang bagian penerimaan PPDB tidak bisa,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Kepala SMAN 9 Kota Tangsel Hendro mengatakan, sekolah memiliki standar dalam menilai anak berprestasi yang bisa masuk di SMAN 9 Kota Tangsel. Menurutnya, tidak semua prestasi dapat dijadikan modal masuk melalui jalur prestasi non akademik di SMAN 9 Kota Tangsel.
Hendro menegaskan, pihaknya hanya menerima prestasi yang perlombaannya diselenggarakan lembaga pemerintahan, seperti diselenggarakan Kementerian, Dinas Pendidikan, Dinas Olahraga, KONI dan lainnya.
Sementara, prestasi yang diraih Lila yang ia ketahui seluruh penghargaannya hanya dari sekolah.
“Itu kan sudah ada petunjuk teknis PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru), bahwa prestasi non akademik itu adalah juara tingkat Kota yang diadakan Dindik Tangsel, Dinas Olahraga atau Kemenag, atau juga KONI pada bidang olahraga. Boleh dicek deh, aturannya,” ujar Hendro kepada RADARBANTEN.CO.ID pada Jumat, 28 Juli 2023.
Hendro juga membantah pihaknya mengakomodir siswa yang rumahnya jauh dari sekolah, sementara Lila yang masuk melalui jalur zonasi yang rumahnya lebih dekat dari sekolah tidak diloloskan. Menurutnya semua pelaksanaan PPDB sudah dilakukan melalui sistem online dan verifikasi langsung.
“Bisa dicek, zonasi PPDB kita,” ujarnya.
Hendro menambahkan, pihaknya tidak bisa mengakomodir seluruh siswa yang mendaftar, sebab saat PPDB dibuka ada 750 siswa yang mendaftar.
“Sementara kami hanya menerima separuhnya. Jadi kami tidak bisa menggunakan perasaan,” tandasnya. (*)
Reporter: Syaiful Adha
Editor: Agus Priwandono











