SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pelaksanaan Lomba Kampung Bersih dan Aman (LKBA) Kabupaten Serang 2023 sudah memasuki tahun kelima.
Menurut Bupati Serang, Ratu Tatu Chasanah, lomba yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang bersama Radar Banten, TNI, dan Polri tersebut dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Serang.
Ia mengatakan, ada indikator yang harus tercapai guna mencapai kesejahteraan masyarakat. Salah satunya ialah kesehatan masyarakat.
“Kesehatan akan tercapai dari kebersihan lingkungan. Jadi kami terus dorong supaya bersih diri dan bersih lingkungan kemudian bersih dari narkoba Karena ini akan menjadi permasalahan untuk akan-anak kita ke depan,” katanya saat ditemui di sela Roadshow LKBA Kabupaten Serang 2023 di Alun-Alun Kramatwatu, Rabu, 2 Agustus 2023.
Selain soal kebersihan, LKBA juga menitikberatkan pada partisipasi masyarakat dan juga budaya gotong royong.
Gotong royong sendiri dinilai akan mampu banyak memecahkan berbagai permasalahan yang terjadi di masyarakat.
“Kekuatan di masyarakat ini luar biasa mau penanganan kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Kalau antusiasme masyarakat tinggi dan sangat kompak, Pemda akan lebih mudah untuk membawa masyarakat lebih sejahtera,” jelasnya.
Melalui LKBA juga, masyarakat akan diajak untuk mampu mengelola sampah mulai dari hulunya.
Dalam satu hari, di Kabupaten Serang menghasilkan 1.000 ton sampah. Ini kalau tidak ada upaya untuk menangani sampah di hulu, akan menjadi bom waktu.
“Kalau semuanya diserahkan ke Pemda tentu ini tidak akan berhasil, akan berapa mesin yang harus kita siapkan,” katanya.
Masyarakat juga akan diajak untuk melihat nilai ekonomis yang terkandung pada sampah yang selama ini dihasilkan di rumah tangga.
Untuk itu, perlu ada pemilahan di hulu agar masyarakat mendapatkan manfaat dari sampah.
“Misalnya sampah yang bernilai itu bisa dijual, ada industri yang menerima. Untuk dus misalnya ada yang menerima,” jelasnya.
Sampah-sampah organik juga dapat diolah dan dijadikan pupuk. Itu sangat berguna selain untuk pemenuhan untuk pupuk, juga dapat dijual dan memiliki nilai ekonomis.
“Kita meminta kepada LH (Dinas Lingkungan Hidup) untuk memberikan pelatihan-pelatihan untuk mengolah sampah organik. Bisa dijadikan pupuk atau pakan magot,” tegasnya.
Hal itu tentunya dikembalikan pada keinginan masyarakat untuk memulai agar lingkungan tidak menjadi lautan sampah.
“Jadi masyarakat sudah terbiasa, tidak melempar sampah di mana aja. Ada sampah dipungut dan dibuang ke tempatnya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agus Priwandono











