SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Berdasarkan data Pemprov Banten melalui aplikasi e-dasawisma, ada 29.794 anak stunting. Dari jumlah itu, 11.762 anak masih dalam penanganan dan 18.032 sudah tertangani.
Dengan begitu, estimasi prevalensi stunting di Banten 12,97 persen. Namun, berdasarkan Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), pada tahun 2021 angka prevalensi stunting di Provinsi Banten 24,5 persen dan tahun 2022 berhasil ditekan menjadi 20 persen.
Selain itu, masih ada juga keluarga berisiko stunting di Banten sebanyak 532.580 keluarga. Jumlah itu tersebar di delapan kabupaten/kota.
Pj Sekda Banten Virgojanti mengatakan, adanya monitoring dari 19 kementerian/lembaga ini dapat membantu mempercepat penurunan angka stunting.
“Saya juga sudah menyampaikan ada hal-hal mana saja yang masih menjadi kekurangan kita dan menjadi kerja kita bersama. Bukan berarti kita sudah turun juga kemudian kita abai kita lengah. Ini selalu saya ingatkan kepada seluruh tim percepatan penurunan stunting dan desa,’ ujar Virgojanti usai acara evaluasi terpadu percepatan penurunan stunting di Hotel Aston Serang, Selasa, 10 Oktober 2023.
Kata dia, keberhasilan penurunan angka yang sudah baik itu tentunya perlu dipertahankan. Sedangkan, beberapa indikator yang masih kurang akan diperbaiki terus.
“Supaya kondisinya semua dalam keadaan yang cukup baik dan juga sesuai dengan target kinerja pemerintah pusat di mana 2024 nanti 14 persen,” tuturnya. Ia berharap, Banten bisa di bawah rata-rata nasional.
Virgojanti mengaku masih ada target 6 persen yang harus diturunkan tahun ini. Dengan anggaran yang sudah digelontorkan Pemprov Banten tahun ini untuk penanganan stunting, diharapkan mampu lebih menurunkan angka stunting di Banten. Pihaknya juga terus mengevaluasi dampak dari penganggaran tersebut.
Namun, ia melihat beberapa kinerja dari penanganan secara database banyak memperlihatkan keberhasilan. Meskipun begitu, angka prevalensi stunting kemungkinan terus mengalami fluktuatif karena ada kelahiran kelahiran dan sebagainya.
Untuk itu, pihaknya mengingatkan kepada ibu hamil dan anak-anak yang kondisi rawan stunting untuk dijaga kesehatannya.
“Dan saya berharap juga, ini masalah bukan yang harus kita cari salah menyalahkan, tapi ayo kita selesaikan bersama. Kalau dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia, Banten masih cukup (angka penurunan stunting-red),” tegas Virgojanti.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Yb. Satya Sananugraha menambahkan, kegiatan evaluasi ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan roadshow yang dilakukannya sebelumnya.
Diungkapkan, tahun ini sampai bulan Juni kemarin Menko PMK Muhadjir Effendy, bersama 19 kementerian dan lembaga melakukan diskusi dengan 33 provinsi dan 393 kabupaten/kota secara daring dengan tujuan mendapatkan kendala, masalah, dan apa yang bisa pemerintah pusat bantu.
“Provinsi Banten ini penurunan stuntingnya sangat tinggi. Itu cukup berhasil. Makanya beberapa waktu lalu mendapatkan bantuan dana insentif fiskal dari Bapak Wapres,” ujarnya.
Ditambahkan Satya, karena nilai absolutnya dan jumlah penduduk yang Besar, Provinsi Banten menjadi salah satu daerah prioritas yang dibantu dari 13 daerah lainnya.
“Kita harapkan dengan kegiatan ini percepatan penurunan stunting di Banten bisa kembali cepat ditekan, sehingga Banten bisa menjadi contoh untuk percepatan penurunan stunting,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengatakan, air bersih menjadi salah satu catatan dari pemerintah pusat untuk Banten. Hal itu diketahui saat tim percepatan penurunan stunting melakukan kunjungan ke Kecamatan Kasemen, Kota Serang yang kondisi airnya payau.
Reporter : Rostinah
Editor: Aas Arbi











