TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT) Memed Chumaidi menyebut Nahdlatul Ulama (NU) menjadi perbincangan hangat dalam jagad media mainstream maupun media sosial. Hal tersebut erat dihubungkan dengan tindakan atau laku politik yang sedang panas dalam kontestasi electoral
“Nah, hal ini menjadi klaim yang ditunjukan oleh masing-masing tim sukses tentang kandidat calon presidennya,”ungkap Memed, Senin, 23 April 2023.
Menurutnya, semakin dekat waktu pemilihan, semakin mengerucut para kandidat kepada 3 nama yang besar kemungkinan berpasangan. Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Ganjar Pranowo- Mahfud MD, dan Prabowo Subianto-Gibran Rakabumung Raka.
Kata Memed, dari ketiga nama tersebut yang bisa mengklaim sebagai santri dan merepresentasi golongan Nahdlatul Ulama ada 2, yaitu Muhaimin Iskandar dan Mahfud MD.
“Dua nama ini memiliki kualitas yang berbeda. Muhaimin secara politik memiliki kekuatan jaringan pesantren,” katanya.
Memed menerangkan, bagaimana pun PKB adalah partai yang lahir dari rahim NU menjadi modal politik untuk meraih dukungan dari kalangan santri.
Apalagi, mantan ketum PB PMII ini pernah menjadi menteri, anggota DPR dan saat ini sebagai ketum PKB wajar jika kemudian mengklaim paling NU. “Secara de facto memang dirinya cicit dari pendiri NU dan pendiri Pondok Pesantren Denanyar KH Bisri Syansuri,” ungkapnya.
Sedangkan Mahfud MD sebagai orang Madura, lanjut dia, kental dengan budaya keislaman dan santri memiliki kekuatan pembeda.
“Jadi, kalau Mahfud merupakan akademis sebagai guru besar hukum UII, besar dalam pengkaderan HMI menjadikan dirinya sebagai Presidium KAHMI,” terangnya.
Selain sebagai profe sional, lanjut Memed, Mahfud MD pernah menjadi Menteri Pertahanan dari kalangan sipil era Presiden Gus Dur, penah ketua Mahkamah Konstitusi, dan saat ini sebagai Menkopolhukam.
Ditambah locus Madura sebagai basis NU di Jawa Timur, lanjut Memed, sebagai complement yang tidak terelakkan melekat dalam pribadinya. Mahfud MD yang teruji bersih merupakan jualan yang terus dilakukan, apalagi di beberapa momen dalil-dalil serta quote-quote Islami yang keluar dari ceramahnya menjadi penanda melekatnya kualitas kesalehan dirinya.
.
“Wajar jika klaim dirinya sebagai santri, karena memang Mahfud lahir dari keluarga besar kyai. Orang ini memiliki takaran kualitas dan kapabilitas yang mumpuni. Baik sebagai politisi maupun sebagai profesional,”jelas Memed.
Memed menambahkan, kesan asal ada santri, kyai dan NU yang disematkan dan melekat dalam dirinya tidak mengejawantahkan nilai lebih dalam kwalitas dan kapabilitas yang patut diuji.
“Muhaimin dan Mahfud hanya cukup di level orang nomor dua dalam kontestasi pilpres kali ini, tapi keterpilihan keduanya bukan hanya sebatas mewakili santri dan NU yang hanya sebagai magnet electoral, tapi lebih kepada penguasaan individu atas konsepsi kepemimpinan, keindonesiaan dan kualitas dalam bernegara,”pungkasnya.
Reporter: Mulyadi
Editor : Aas Arbi











