Penulis : DR. KH. Encep Safrudin Muhyi, M.M., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi)
Bulan Pertama Hijriah
Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah. Kata Muharram berasal dari akar kata yang berarti “diharamkan” atau “dipantang”, yaitu larangan melakukan peperangan dan pertumpahan darah. Tanggal 1 Muharram diperingati sebagai tahun baru Islam.
Muharram juga memiliki keutamaan besar dalam Islam. Bulan ini disebut sebagai “bulan Allah SWT”, sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasulullah SAW:
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Umar bin Khattab menetapkan awal kalender Hijriah pada 1 Muharram, yang bertepatan dengan momentum hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi. Muharram juga termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan dalam Islam (al-asyhur al-hurum).
Mengapa bulan Muharram termasuk bulan yang dimuliakan? Salah satu alasannya adalah karena pada masa jahiliah, peperangan dan pembunuhan dilarang keras dilakukan pada bulan ini. Muharram menjadi simbol kemuliaan, penghormatan terhadap kehidupan, dan larangan menumpahkan darah manusia.
Berbagai riwayat juga menyebutkan sejumlah peristiwa penting yang dikaitkan dengan tanggal 10 Muharram (‘Asyura), di antaranya keselamatan Nabi Ibrahim AS dari kobaran api serta diterimanya tobat Nabi Adam AS setelah beliau bersama Siti Hawa memakan buah terlarang di surga.
Muharram Momentum Menata Masa Depan
Bertemu dengan bulan Muharram merupakan kenikmatan tersendiri bagi seorang mukmin. Bulan ini sarat dengan pahala dan menjadi ladang amal bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh mempersiapkan hari esoknya. Memulai awal tahun dengan ketaatan akan menumbuhkan keyakinan dalam melangkah serta optimisme dalam menatap masa depan.
Abu Utsman an-Nahdi berkata:
“Para salaf mengagungkan tiga masa utama: sepuluh hari terakhir bulan Ramadan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.”
Berikut beberapa amalan sunnah yang dianjurkan pada bulan Muharram:
1. Puasa Sunnah
Rasulullah SAW bersabda:
> أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.”
Hadis ini menunjukkan bahwa puasa sunnah paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Muharram. Yang dimaksud di sini ialah memperbanyak puasa sunnah secara umum, terutama pada hari ‘Asyura (10 Muharram).
Namun demikian, perlu dipahami bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa satu bulan penuh selain pada bulan Ramadan. Oleh karena itu, puasa sunnah di bulan Muharram dianjurkan secara proporsional.
Ibnu Taimiyah berkata:
“Ini adalah puasa yang paling utama bagi orang yang hanya berpuasa pada bulan ini saja. Sedangkan bagi orang yang terbiasa berpuasa sepanjang tahun, maka puasa yang lebih utama adalah puasa Daud.”
2. Memperbanyak Amal Saleh
Sebagaimana perbuatan dosa pada bulan mulia akan mendapat balasan yang besar, demikian pula amal kebaikan akan memperoleh pahala yang berlipat. Orang yang beramal saleh pada bulan ini akan memperoleh limpahan kasih sayang dan kemurahan Allah SWT.
Ini merupakan keutamaan yang besar dan nikmat yang tidak dapat diukur dengan logika manusia. Allah SWT memberikan keutamaan sesuai kehendak-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Tidak ada yang dapat menolak ketetapan maupun keutamaan-Nya.
3. Memperbanyak Tobat
Tobat berarti kembali kepada Allah SWT dari perkara yang dibenci-Nya, baik secara lahir maupun batin, menuju perkara yang diridai-Nya. Tobat mencakup penyesalan atas dosa yang telah lalu, meninggalkan dosa tersebut seketika, serta bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Tobat adalah tugas sepanjang hayat.
Karena itu, seorang muslim yang terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan hendaknya segera bertobat tanpa menunda-nunda, sebab tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan kematian akan datang menjemputnya. Selain itu, satu keburukan sering kali mendorong seseorang melakukan keburukan lainnya.
Apabila kemaksiatan dilakukan pada waktu-waktu yang dimuliakan, maka dosanya pun menjadi lebih besar sesuai dengan kemuliaan waktu tersebut. Oleh sebab itu, bersegeralah kembali kepada Allah SWT.
Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Allah dan renungkan perjalanan hari-hari yang terus berlalu. Sesungguhnya pergantian siang dan malam akan terus berjalan mengantarkan manusia menuju akhir perjalanan hidupnya, yaitu negeri akhirat.
Berbahagialah orang yang mengisi waktunya dengan sesuatu yang mendekatkannya kepada Allah SWT; yang menyibukkan diri dengan ketaatan serta menjauhi kemaksiatan. Berbahagialah orang yang meyakini hikmah-hikmah Allah yang agung di balik pergantian keadaan dan perjalanan kehidupan.
Hari ini kita berpisah dengan tahun yang telah berlalu—tahun yang menjadi saksi perjalanan hidup kita. Pada saat yang sama, kita menyambut tahun baru Hijriah. Maka, renungkanlah: apa yang telah kita tinggalkan pada tahun sebelumnya? Dan dengan bekal apa kita menyambut tahun yang baru ini?
Orang yang berakal hendaknya mengintrospeksi dirinya. Jika masih ada kewajiban yang ditinggalkan, segeralah bertobat dan memperbaikinya. Jika masih terjerumus dalam kemaksiatan dan perkara haram, tinggalkanlah sebelum ajal datang menjemput. Dan jika Allah SWT telah menganugerahkan keistikamahan, maka mohonlah agar tetap istiqamah hingga akhir hayat.
Awal tahun Hijriah telah membawa kita memasuki bulan Allah, yaitu Muharram. Bulan ini bukan sesuatu yang asing bagi umat Islam. Namun pertanyaannya, sudahkah kita memahami keutamaan dan amalan-amalan yang dianjurkan di dalamnya?
Di bulan ini terdapat berbagai amalan yang patut diperhatikan sebagai upaya menghidupkan sunnah Rasulullah SAW sekaligus meraih pahala dan kebaikan bagi siapa pun yang menempuh jalan petunjuk agama.

Penulis adalah Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi Cikedal serta penulis buku Islam dalam Transformasi Kehidupan dan Kepemimpinan Pendidikan Transformasional.








