PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Pandeglang mencatat sebanyak 69.902 keluarga di Kabupaten Pandeglang masuk dalam keluarga berisiko stunting.
Keluarga berisiko stunting dalam keluarga adalah anak remaja putri, calon pengantin, dan ibu hamil. Termasuk juga anak usia 0 hingga 23 bulan yang berasal dari keluarga miskin.
Menurut Kepala (DP2KBP3A) Kabupaten Pandeglang, Achmad Saepudin mengatakan, berdasarkan pendataan sebanyak 69.902 keluarga di Kabupaten Pandeglang masuk dalam keluarga berisiko stunting.
“Yang tersebar di 35 Kecamatan di Kabupaten Pandeglang,” katanya dalam rapat koordinasi penurunan stunting di Hotel S’rizki Pandeglang, Kamis, 7 Maret 2024.
Saepudin menjelaskan, dari jumlah sebanyak 69.902 keluarga berisiko stunting terdapat 10 desa menjadi lokus penanganan stunting. Dengan jumlah sebanyak 4.052 keluarga beresiko stunting.
“Angka stunting di Kabupaten Pandeglang pada tahun 2022 mengalami penurunan,” katanya.
Pada tahun 2021 angka prevalensi sunting menurut Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) yaitu sebesar 37,8 persen. Namun akhirnya menurun pada tahun 2022 menjadi 29,4 persen.
“Kami mengharapkan tahun 2023 bisa menurun sebesar 6 persen menjadi 23,4 persen,” katanya.
Saepudin mengungkapkan, sementara ini belum diketahui karena masih menunggu launching hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI). Sedangkan jika melihat untuk target nasional tahun 2024 sebesar 14 persen.
“Semoga kita dapat mencapai target sesuai yang diharapkan. Yakni bisa turun sebesar 6 persen dari 29,4 menjadi 23,4 persen,” katanya.
Lebih lanjut Saepudin menegaskan, sebagai upaya percepatan penurunan stunting pihaknya menjalankan beberapa program kerja masuk skala prioritas. Di antaranya peningkatan kapasitas kader dengan memberikan pelatihan terhadap Tim Pendamping Keluarga (TPK).
“Memberikan edukasi terhadap sasaran pendampingan kepada calon pengantin, Ibu hamil, baduta (balita di bawah usia dua tahun) dan balita,” katanya.
Selain mengedukasi kader, dilaksanakan program pemberian makanan tambahan bergizi dan seimbang.
“Diberikan terhadap ibu hamil dan balita stunting di sepuluh desa yang menjadi lokus stunting,” katanya.
Sekretaris Daerah Kabupaten Pandeglang Ali Fahmi Sumanta mengatakan, dalam upaya percepatan penurunan stunting tidak bisa diselesaikan oleh salah satu pihak saja.
“Tetapi membutuhkan komitmen dan kerja bersama semua pihak. Baik pemerintah, swasta dan masyarakat,” katanya.
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Aditya











