TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabuoaten Tangerang terus berupaya melakukan strategi dalam mendukung upaya Eliminasi Tuberkulosis 2030. Di antaranya, dengan melakukan Sosialisasi Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) pada lintas sektor.
Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Achmad Muchlis, mengatakan, saat ini Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, dan itu menimbulkan masalah yang kompleks.
Maka dari itu, pihaknya perlu berkomitmen bersama untuk mencapai target Eliminasi Tuberkulosis 2030.
“Jadi, eliminasi tersebut dapat tercapai apabila TC (Treatment Coverage) 90 persen, SR (Success Rate) 90 persen, dan TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis) 80 persen,” ungkap Muchlis, Selasa, 12 Maret 2024.
Menurutnya, pada 2023 capaian TC dan SR Kabupaten Tangerang sudah mencapai lebih daei 90 persen. Namun, capaian TPT baru mencapai 15 persen.
Kata Muchlis, serangkaian upaya turut dilakukan Dinkes Kabupaten Tangerang dalam menekan angka Tuberkulosis di Kabupaten Tangerang, yakni melalui pelaksanaan Kegiatan Active Case Finding TBC, dan Skrining Tuberkulosis pada Anak Sekolah (SITUBERS).
Kemudian, ditambah dengan sosialisasi Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) dan kolaborasi lintas program serta lintas sektor dalam implementasi terapi pencegahan Tuberkulosis.
“Saya berharap, dengan adanya dukungan dari semua pihak dapat meningkatkan capaian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Sehingga nantinya, Kabupaten Tangerang dapat mencapai target eliminasi Tuberkulosis,” tutupnya.
Sementara itu, perwakilan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Banten, dr. Sylvia Sagita Siahaan, menambahkan, kasus Tuberculosis di Indonesia masih terbilang cukup tinggi.
Sebab, kata dia, cakupan Terapi Pencegahan Tuberkulosis di Kabupaten Tangerang baru mencapai 15 persen, belum mencapai target nasional..
“Saya berharap melalui kegiatan Terapi Pencegahan Tuberkulosis yang terus menerus kita lakukan bisa membuahkan hasil,” katanya.
Dia juga mengimbau kepada masyarakat untuk segera melakukan screening Tuberculosis jika merasakan gejala atau sehabis kontak dengan pasien TBC.
“Sehingga pencegahan bisa dilakukan secepat mungkin,” pungkas dr. Sylvia. (*)
Editor: Agus Priwandono












