LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID- Museum Multatuli menggelar pemutaran film dan diskusi menyimak ulang film Max Havelaar edisi pertama tahun 1976 yang sempat dilarang diputar dan disensor.
Pemutaran film dan diskusi digelar di Pendopo Museum, Kabupaten Lebak pada 24-25 April 2024.
Kegiatan Pemutaran Film “Max Havelaar” karya Sutradara Fons Rademaker (1976) digelar pada Rabu, 24 April 2024, pukul 19.00-21.30 WIB di Pendopo Museum Multatuli. Sementara itu, Diskusi Menyimak Ulang Film “Max Havelaar” digelar hari Kamis 25 April 2024, pukul 14.00-17.00 WIB di Pendopo Museum Multatuli,
Dalam pemutaran dan diskusi ini akan hadir Fons Rademaker Jr. (Cucu Sutradara Film Max Havelaar), Rizal Sofyan (Seniman), Max Cremer (Seniman) dan Pradewi Tri Chatami (Penulis).
Kepala Museum Multatuli Ubaidilah Muchtar mengatakan, film ini dibuat oleh Fons Rademakers dari Belanda pada tahun 1975 di Indonesia, dan masuk bioskop tahun 1976. Pada proses produksinya film ini menemukan banyak masalah dan tantangan.
“Film sempat disensor dan tak boleh tayang di Indonesia selama 12 tahun. Di tahun 1987 (100 tahun wafat Multatuli) film baru lolos sensor dan tayang terbatas, tetapi tidak di Lebak. Film ini menjadi film yang paling banyak dibahas di sejarah film Indonesia. Di tahun 1987 sampai 1988 banyak media Indonesia, harian dan majalah menerbitkan artikel pro dan kontra film. Juga di komunitas film dan oleh mahasiswa di kampus, film ini dibahas dan didiskusikan secara karya seni dan karya,” kata Ubaidilah kepada RADARBANTEN.CO.ID, Jumat 19 April 2024.
Ia menjelaskan, saat di zaman saat ini masyarakat Indonesia perlu mengetahui dalam menambah wawasan tentang Film Max Havelaar karya Sutradara Fons Rademakers dari Belanda.
“Di zaman ini dengan banyak diskusi tentang dekolonisasi, kolonialisme di Belanda, rakyat menjadi lebih sadar apa telah terjadi di Hindia Belanda dan saat revolusi,” terangnya.
“Belanda juga lebih terbuka untuk mendengar dan merepresentasikan suara Indonesia dalam diskusi itu. Dan terbuka untuk kritik. Hasil adalah bahwa lebih sering terjadi kerja sama antara Indonesia dan Belanda di bidang seni, permuseuman, penelitian, dan lain-lain,” sambungnya.
Ia menambahkan, tujuan kegiatan pemutaran dan diskusi film ini untuk mencoba memperlihatkan film Max Havelaar untuk masyarakat Lebak dan menjelaskan latar belakang film dari sudut pandang dan teori dekolonisasi.
“Selain itu pemutara untuk mencari pendapat dari sudut pandang milenial. Menyimak kembali karya film Max Havelaar yang banyak didiskusikan dan ditelaah sejak pertama kehadirannya dan merekonstruksi pemikiran-pemikiran yang berserakan disaat produksi dan tayang perdana film tersebut di tahun 1976,” tandasnya.
Reporter: Nurandi
Editor: Aas Arbi











