LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Mulyana (34), buruh tani asal Kampung Umbul, Desa Daroyon, Kecamatan Cileles, Kabupaten Lebak, tega membacok tetangganya bernama Enur (67). Enur pun terkapar bersimbah darah.
Peristiwa berdarah tersebut terjadi pada Rabu, 15 Mei 2024, sekira pukul 11.00 WIB.
Usai membacok tetangganya itu, Mulyana kabur ke hutan. Sampai sekarang belum ditemukan.
Kepala Desa Daroyon, Suryadi, membenarkan telah terjadi pembacokan yang membuat seorang kakek mengalami luka parah di bagian wajah. Korban langsung dibawa ke Puskesmas Prabugantungan dan mendapatkan 27 jahitan.
“Karena lukanya parah dan bacokannya dalam, korban dirujuk ke RSUD Adjidarmo,” kata Suryadi.
Ditanya terkait penyebab terjadinya pembacokan, Suryadi mengaku, tidak tahu soal kronologi kejadian pembacokan di Kampung Umbul tersebut. Namun, katanya, peristiwa tersebut merupakan yang kedua dilakukan pelaku terhadap korban.
“Dulu, pelaku juga bacok korban. Tapi, kedua belah pihak memilih untuk berdamai,” jelasnya.
Pelaku pembacokan, kata Suryadi, menggunakan parang untuk menganiaya korban. Sehari-hari, korban berprofesi sebagai buruh tani atau buruh serabutan.
“Pelaku jarang bergaul dengan masyarakat. Ada yang bilang pelaku mengalami gangguan jiwa, tapi saya belum bisa menyimpulkan karena soal itu tenaga medis yang berwenang memvonis pelaku ada gangguan atau tidak,” ungkapnya.
Kanit Kriminal Umum (Krimum) Satreskrim Polres Lebak, Iptu M Alfian Hazali menyatakan, pelaku masih belum ditemukan. Untuk korban sudah mendapatkan penanganan medis di rumah sakit.
“Iya, telah terjadi tindak pidana penganiayaan di Cileles. Pelaku belum ditemukan,” terangnya.
Pelaku, kata Alfian, tiba-tiba menghampiri korban di rumahnya dengan membawa sebilah parang. Dia kemudian membacokkan parangnya ke bagian hidung korban hingga luka dan bersimbah darah.
Warga sekitar yang melihat kejadian langsung melerai dan membawa korban ke Puskesmas. Sementara itu, pelaku kabur ke hutan dan belum ditemukan sampai sekarang.
“Kita akan terus kejar pelaku hingga ditemukan,” tegasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











