PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Provinsi Banten mengalokasikan anggaran APBD Tahun 2024 sebesar Rp 5,5 miliar untuk penanganan banjirdi Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, akibat luapan air Sungai Cipunten Agung.
Anggaran sebesar Rp 5,5 miliar untuk pengerjaan proyek penanganan banjir itu dilaksanakan oleh DPUPR Banten melalui kontraktor pelaksana PT Zhafira Artha Konsultan.
Proyek pengerjaan yang dilakukan berupa pemancangan tiang di bibir muara Sungai Cipunten Agung dengan memasang sheet pile beton.
Muara Sungai Cipunten Agung di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, masuk dalam daerah langganan banjir di musim penghujan maupun saat terjadi banjir rob atau pasang air laut.
Pemprov Banten melalui DPUPR melakukan upaya dengan memasang sheet pile beton untuk menahan luapan air sungai agar tidak masuk permukiman warga atau nelayan Desa Teluk.
Adapun penyebab banjir sebetulnya bukan hanya karena musim hujan debit air mengalami peningkatan, tetapi terjadi pendangkalan akibat sedimen lumpur dan sampah.
Ditambah lagi dengan banyaknya warga, terutama pedagang di Pasar Labuan, mendirikan bangunan menjorok ke aliran sungai sehingga terjadi penyempitan Sungai Cipunten Agung.
Salah satu nelayan Desa Teluk, Imron, mengucapkan terima kasih kepada Pemprov Banten yang tengah membangun tanggul penanggulangan banjir dengan memasang tiang pancang beton di muara Sungai Cipunten Agung.
“Kami sebagai nelayan banyak mengucapkan terima kasih. Cuman begini, intinya pengendali banjir ini harus ditindaklanjuti dengan penertiban bangunan yang di Pasar Labuan,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID di Desa Teluk, Selasa, 30 Juli 2024.
Bangunan berada di bantaran sungai di Pasar Labuan itu dibangun menjorok ke aliran sungai. Sehingga, Sungai Cipunten Agung mengalami penyempitan.
“Ya saya minta pembangunan di pasar itu berhenti. Jangan maju terus ke tengah aliran sungai karena itu tidak hanya menyebabkan banjir tetapi menghalangi jalan kapal nelayan,” katanya.
Pada saat ini, Imron mengatakan, jumlah nelayan punya perahu atau kapal bertambah dan warga yang membangun menggunakan lahan sungai semakin bertambah juga.
“Itu sebetulnya jalur perahu dan jalur air juga. Banyak perahu nelayan akhirnya jadi korban karena kena tiang tembok bangunan itu,” katanya.
Sehingga bangunan yang menjorok menutupi aliran sungai itu harus ditertibkan. Selain itu harus dikendalikan sampahnya.
“Karena kalau malam itu mungkin orang pasar suka buang sampah di jembatan Labuan ke sungai. Sampah juga turut berkontribusi menjadi penyebab banjir karena membuat sungai mengalami pendangkalan,” katanya.
Jadi, sedimen di Muara Sungai Cipunten Agung bukan hanya lumpur tapi banyak juga sampahnya. Dikarenakan memang penduduk Labuan padat dan sampah paling banyak menumpuk di pas jembatan Labuan.
“Sampah numpuk di sana dan saat musim banjir sampah itu jatuhnya ke sungai. Nah itu membuat pendangkalannya di muara,” katanya.
Muara Sungai Cipunten Agung tidak hanya perlu pemancangan tiang pancang sebagai tanggul penanggulangan banjir. Tapi juga harus dilakukan pengerukan sedimen lumpur dan sampahnya.
“Sampah di muara itu sering tersangkut kena mesin. Membuat perahu enggak bisa jalan,” katanya.
Kemudian paling penting, yaitu menertibkan bangunan liar yang menutupi aliran Sungai Cipunten Agung.
“Kalau bisa diratakan saja karena ini kan kalau semakin maju tambah maju kan alur sungai bukan melebar tapi semakin sempit. Menyebabkan banjir dan mengganggu jalur perahu nelayan dari muara menuju laut ataupun sebaliknya,” katanya.
Pemerhati Lingkungan Kecamatan Labuan Asep mengucapkan, syukur alhamdulillah Labuan kembali mendapatkan proyek penanganan banjir.
“Penanganan banjir ini seharunya bukan hanya satu lokasi ini saja. Mungkin kita harus melihat dari hulu sampai ke hilir,” katanya.
Salah satunya di kolong jembatan Labuan yang saat ini terjadi pendangkalan karena banyak sampah-sampah yang dibuang sembarangan. Hingga akhirnya aliran sungai Cipunten Agung debit nya naik ke permukaan.
“Selain itu di sepanjang aliran menuju muara terdapat bangunan yang sebaiknya diratakan saja. Khususnya pada aliran sebelah kanan dari arah laut yang terus menjorok menutupi aliran sungai,” katanya.
Bangunan perlu ditertibkan karena pendirian bangunan bukan hanya di batas bantarannya saja tetapi seperti maju ke sungai sehingga mengalami penyempitan.
“Semoga saja di sepanjang Muara ini tidak hanya dilakukan pemasangan turap pencegah banjir tetapi juga pengerukan. Seharusnya memang segera dilakukan pengerukan karena sudah lama diadukan oleh nelayan tentang pendangkalan ini dan seharunya itu yang didahulukan bukan hanya pemasangan turap saja,” katanya. (*)
Editor: Agus Priwandono











