PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Pemerintah Desa Bandung, Kecamatan Banjar, Kabupaten Pandeglang, menyelenggarakan kontes Ikan Mas Sinyonya di Mina Agrowisata Bukit Sinyonya. Kontes Ikan Mas Sinyonya diikuti oleh pecinta Ikan Mas Sinyonya se-Provinsi Banten.
Ikan Mas Sinyonya termasuk ikan peninggalan zaman purba yang saat ini hampir punah.
Kepala Desa Bandung Wahyu Kusnadiharja mengatakan, Desa Wisata Bandung menggelar Nusantara Sinyonya Festival di Mina Agrowisata Bukit Sinyonya.
“Kegiatannya sudah dua hari, dari kemarin. Dan hari ini kita ada gebyar Sinyonya kontes dan ada Gemarikan (gerakan memasyarakatkan makan ikan),” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Minggu 25 Agustus 2024.
Wahyu menjelaskan, ikan yang disediakan untuk Gemarikan sebanyak 200 kilogram.
“Jumlah pengunjung yang hadir di hari kedua acara Nusantara Sinyonya Festival mencapai 800 orang sampai siang hari ini. Dan tentunya lebih apabila dijumlahkan dengan temen-temen peserta kontes Sinyonya,” katanya.
“Kita akan ada event seperti ini per enam bulan sekali. Dan bulan besok juga kita akan ada event budaya kaceran,” sambungnya.
Setiap bulan, pastinya akan ada event namun ini semua tidak terlepas dukungan setiap stakeholder yang ada. Dukungan masyarakat, para pecinta Ikan Mas Sinyonya, para pembudidaya ikan Mas Sinyonya
“Semua kontestan ada di sini turut memeriahkan. Dan kegiatan ini mendapat banyak dukungan dari Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Pandeglang dan Kanwil Provinsi Banten,” katanya.
Lebih lanjut, Wahyu mengungkapkan, peserta kontestan Sinyonya Festival sendiri dari wilayah Provinsi Banten. Ada dari Tangerang, Cilegon, dari Serang ada yang dari Lebak.
“Ya, kalau Pandeglang sudah pasti, karena Pandeglang tuan rumahnya,” katanya.
Pada kontes kali ini, untuk para jurinya ada dari akademisi, birokrat, dan praktisi.
“Birokrasi itu dari penyuluh perikanan, praktisi pembudidaya ikan ada di sini dan dari akademisi dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,” katanya.
Direktur Pembangunan Sarana dan Prasana Desa dan Persediaan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT) Helmiati mengungkapkan, mengelola obyek wisata itu harus sesuai dengan potensi.
“Nah kalau ini potensi, sepertinya bukan alam. Nah ini potensi wisata buatan,” katanya.
Wisata buatan itu memang terkait dengan kreatifitas dan inovasi kepala desa bekerjasama dengan Pokdarwis. Terus dukungan penuh dari Pemerintah Daerah dan bisa juga dari stakeholder
“Itu berkolaborasi, bersinergi dan mengelola obyek wisata itu dibutuhkan atraksi di dalamnya. Event-event seperti ini akan mendatangkan wisatawan,” katanya.
Festival ini adalah salah satu contoh menggerakkan wisata itu ada keunikan di dalamnya yang perlu di support, ditopang, untuk mempromosikan desa wisatanya.
“Memang kalau desa wisata itu dukungannya bisa sarana pembangunan gazebo. Seperti kolam-kolam itu silakan diusulkan ke Kemendes,” katanya.
Editor: Mastur Huda











