KABUPATEN TANGERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Setelah mendapatkan kunjungan dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada Sabtu, 28 September 2024, ke sentra kerajinan topi dan peci anyaman bambu yang berlokasi di Desa Ancol Pasir, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, membuat Rahman (55), salah satu pengrajin anyaman berbahan bambu, mendapatkan angin segar untuk lebih semangat lagi dalam memproduksi topi dan peci anyaman bambu tersebut.
Diketahui, anyaman bambu itu bisa dijadikan produk topi dan peci khas Kabupaten Tangerang.
Dalam produksinya, Rahman bisa menghasilkan puluhan topi dan peci hingga ratusan sesuai dengan pesanan. Baik pesanan dari wilayah Kabupaten Tangerang hingga luar daerah secara online dan langsung.
“Alhamdulillah, kedatangan dari Panitia Seleksi Nasional (Panselnas) UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada Sabtu, 28 September 2024 kemarin, membuat saya tambah semangat dalam memproduksi produk berkualitas dari bahan baku bambu,” ucap Rahman, Senin, 30 September 2024.
Menurut Rahman, kunjungan tim Panselnas UNESCO tersebut rupanya ada informasi dari mereka, yang di mana kata mereka sentra kerajinan bambu miliknya masuk nominasi empat besar.
Dimana, kata Rahman, tinggal selangkah lagi meraih juara satu pada ajang Kota Unik berskala internasional yang dimotori oleh UNESCO.
“Jadi, saya mendapatkan info dari Paselnas kemarin, jika sentra kerajinan miliknya sudah masuk nominasi empat besar, dan bertelur mendapat juara,” ujar Rahman.
Kata Rahman, UCCN ini bertujuan untuk menumbuhkan kerja sama internasional dengan timbal balik antar kota anggota yang berkomitmen untuk berinvestasi dalam kreativitas sebagai pendorong pembangunan kota yang berkelanjutan, inklusi sosial dan semangat budaya.
Meski begitu, Rahman bilang saingan terberatnya untuk menjadi juara saat ini adalah keunikan Reog Ponorogo dari Jawa Timur.
Namun, dirinya sangat optimis bisa meraih juara, karena memang produk kerajinan topi dan peci bambu yang digeluti keluarganya merupakan hasil dari turun temurun hingga tiga generasi.
“Dan itu murni keterampilan menganyam dari bahan baku bambu tanpa ada unsur gaib apapun,” terang Rahman.
Rahman juga mengungkapkan, untuk menganyam topi dan peci bambu itu, selain perlu keterampilan, juga harus memiliki ketekunan dan keuletan secara personal.
Makanya, ungkap Rahman, kemarin waktu kunjungan Panselnas dirinya menghadirkan lebih dari 500 ibu-ibu penganyam untuk berjejer sepanjang jalan menuju rumahnya.
Rahman menambahkan, jika sentra kerajinan topi bambu berhasil menjadi juara 1 atau minimal 2, informasi yang diperoleh bahwa perhatian dari jaringan kota dunia akan tertuju ke Kabupaten Tangerang, khususnya Kecamatan Jambe, yang di mana ada sekitar 2 juta orang dari luar negeri akan datang berkunjung ke sini.
“Insya Allah, bila masuk juara akan menjadi keberkahan untuk para pengrajin topi anyaman bambu, dan kami mohon doa dan dukungannya dari semua pihak,” harap Rahman.
Sementara itu, Camat Jambe, Chaidir berharap agar para pengrajin anyaman bambu agar bisa terus melestarikan kerajinan bambu yang sudah turun temurun dan bisa menghasilkan penghasilan untuk para pengrajin bambu, dan sekaligus menjadi icon untuk Kabupaten Tangerang sebagai kabupaten kreatif.
“Iya, saya berharap, usai kemarin di kunjungi oleh tim UNESCO bisa menambah semangat para pengrajin bambu di Desa Ancol Pasir, yang sudah turun-temurun dalam memproduksi anyaman bambu menjadi produk kreatif dan membanggakan Kabupaten Tangerang,” tutupnya.
Editor: Agus Priwandono











