Oleh : DR. KH. ENCEP SAFRUDIN MUHYI. MM., M.Sc, Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
Apresiasi Para Santri
Hari Santri Nasional diperingati pada tanggal 22 Oktober setiap tahunnya. Peringatan ini adalah bentuk penghormatan kepada para santri yang telah berjuang melawan penjajah pada awal kemerdekaan Indonesia.
Pelaksanaan upacara di Hari Santri dapat menjadi momen untuk mengapresiasi para santri dan ulama atas pengorbanan mereka di masa lalu. Oleh sebab itu, upacaranya harus berjalan dengan khidmat dan dapat menginspirasi para santri saat ini. Seorang yang disebut santri tidak hanya mereka yang pernah belajar di pondok pesantren (pontren), tetapi juga mereka-mereka yang memiliki pemahaman dan cara pengamalan keagamaan sebagaimana layaknya santri, yaitu pemahaman Islam yang moderat (wasathiah), toleran (tasamuh).
Peringatan hari santri selain wujud apresiasi kepada para santri juga untuk mengenang dan meneladani perjuangan para ulama dan santri dalam membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tujuan diperingatinya Hari Santri Nasional juga untuk meningkatkan nilai-nilai pendidikan karakter, yang meliputi nilai karakter religius, nasionalis, integrasi, mandiri.
Pada abad ke-19, santri itu mengacu pada seorang pelajar Islam yang berkelana (ke berbagai tempat) dan tinggal dalam waktu tertentu (untuk menyesap ilmu dari seorang kiai); disamping itu, ada istilah “kaum” (atau kaum putihan) merupakan istilah yang sering digunakan untuk menunjuk muslim saleh. Peringatan hari santri adalah untuk memperingati peran santri yang ikut memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada awalnya Hari Santri Nasional hanya diadakan oleh kalangan pesantren untuk mengenang jasa para kaum santri.
Seorang santri bukan hanya diperuntukkan bagi orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab. Namun, santri adalah orang-orang yang meneladani para kiai. Santri merupakan orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut [patuh] kepada kiai. Itu dianggap sebagai santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para santri. Diantara tugas santri adalah menebarkan kedamaian kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja. Salah satu ciri dari seorang santri, yakni memiliki kecintaan yang luar biasa kepada tanah air karena mencintai tanah air adalah sebagian dari iman. Mengamalkan kewajiban sebagai warga negara, hakikatnya mengamalkan ajaran agamanya.
Oleh karena, tanggal 22 Oktober 1945 juga dianggap sebagai hari resolusi jihad yang menyatukan antara santri dan ulama untuk sama-sama berjuang mempertahankan Indonesia. Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca Proklamasi kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggris sebagai pemenang perang dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang.
Tanggal 22 Oktober 1945 dianggap sebagai resolusi jihad di mana santri dan ulama bersatu serta berkorban untuk mempertahankan Indonesia. Apresiasi yang diberikan kepada santri merupakan penghargaan atas perjuangan mereka dalam setiap lomba yang diikuti. Selain itu pemberian apresasi untuk santri berprestasi sebagai ajang memotivasi seluruh santri agar semangat dalam berkompetisi.
Kemampuan atau kompetensi diri memang harus terus digali dan diasah agar berkembang. Maka dengan ajang pemberian apresiasi ini diharapkan semangat juang santri dalam mengembangkan potensi diri tidak berhenti sampai di sini. Namun terus dan terus berkompetisi mngembangkan kompetensi yang dimiliki.
Kiai Sebagai Pigur Sentral
Peran Kiai dalam pesantren merupakan figure sentral panutan, otoritatif, dan pusat seluruh kebijakan serta perubahan, hal ini menunjukkan pentingnya manajemen kepemimpinan kiai dalam lembaga pondok pesantren guna meningkatkan kecerdasan emosial santri, sehingga mampu membentuk santri-sanrti yang religius, intelektual.
Kyai dalam memberikan pendidikan karakter serta membimbing para santri kepada hal yang lebih baik. Upaya kiai dalam pembentukan karakter santri dengan menyangkut pautkan kitab kitab yang di ajarkan saat dipondok dan dengan bimbingan langsung. Dalam pesantren, kepemimpinan dilaksanakan di dalam kelompok kebijakan yang melibatkan sejumlah pihak, di dalam tim program, di dalam organisasi guru, orang tua dan murid (ustadz, wali santri dan santri). Kepemimpinan yang berbaur ini menjadi faktor pendukung aktifitas sehari-hari di lingkungan pondok pesantren.
Peran Kyai sebagai pemimpin sangat strategis dalam menciptakan kemandirian pesantren dalam bidang pendidikan. Kedudukan Kyai sebagai pengasuh dan sekaligus pemilik pesantren, pembimbing para santri dalam hal ibadah amaliah. Di pesantren, seorang kiai merupakan elemen paling penting dan seringkali pendiri sekaligus pengasuh dalam pesantren tersebut. Para kiai dengan kelebihan ilmu pengetahuan mereka akan Islam seringkali dipandang sebagai orang yang senatiasa dapat memahami keagungan Tuhan dan rahasia alam.
Selain berperan sebagai pembimbing spiritual bagi para santri dan masyarakat, sosok kyai juga berperan sebagai seorang mudir/pemimpin bagi pondok yang dikelolanya. Tentunya seorang pemimpin dalam ini kyai dalam memberikan pendidikan karakter serta membimbing para santri kepada hal yang lebih baik. Upaya kiai dalam pembentukan karakter santri dengan menyangkut pautkan kitab kitab yang di ajarkan saat dipondok dan dengan bimbingan langsung.
Kepemimpinan adalah proses memberi inspirasi dan melatih pengikut sukarela dalam upaya mencapai visi bersama. yang jelas Kepemimpinan dipandang sebagai faktor manusia. yang mengikat kelompok dan memotivasi mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Prinsip kepemimpinan dalam Islam berdasarkan Al-Qur’an terdiri kedalam tiga prinsip antara lain ; Pertama, manusia dalam prinsip kekhalifahan. Kedua, prinsip keimanan terhadap keberhasilan kepemimpinan, dan Ketiga, prinsip ulil amri dalam kepemerintahan. Adapun model hubungan Kiai dan santri ada dua tipe. Pertama, pola hubungan guru dan murid adalah hubungan yang terjalin antara Kiai dan santri sebagaimana layaknya antara guru dengan murid dalam pola hubungan formal, kedua, pola hubungan bapak-anak, yaitu pola hubungan yang terjalin antara Kiai dengan santrinya.
Pemimpin terbaik menurut pandangan Islam. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw. “Sebaik-baiknya pemimpin adalah mereka yang kamu cintai dan mencintai kamu, kamu berdoa untuk mereka dan mereka berdoa untuk kamu. Seburuk-buruk pemimpin adalah mereka yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknati mereka dan mereka melaknati kamu.” (HR Muslim).
Dengan demikian, seorang pemimpin yang baik harus memiliki integritas (kepribadian), intelektual (pengetahuan), intelegensi (spiritual), skill atau kemampuan/keahlian, memiliki power atau dapat mempengaruhi orang lain, mau belajar, mendengar dan siap dikritik. Wallahu A’lam.

Penulis Adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Serang / Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi / Penulis Buku Islam Dalam Transformasi Kehidupan & Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional).










