Penulis : Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, M.M., M.Sc., Pimpinan Pondok Pesantren Fathul Adzmi
وَلَا تَمْشِ فِى الْاَرْضِ مَرَحًاۚ اِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْاَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُوْلًا
Artinya: Janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung. (QS. Al-Isra’: 37)
Latihan Spiritual
Ramadan datang mengetuk pintu hati, seolah membawa pesan yang selaras dengan ayat-ayat Tuhan: merundukkan ego dan melembutkan hati. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan spiritual untuk menekan kesombongan yang sering kali tanpa terasa menyelinap dalam diri.
Puasa mengandung pesan yang sangat mendalam tentang sikap rendah hati dan menjauhi kesombongan. Allah mengingatkan kita bahwa manusia, sehebat apa pun pencapaiannya, tetaplah makhluk yang terbatas. Kita tidak mampu menembus bumi yang kita pijak atau menjulang setinggi gunung yang kokoh.
Ramadan mengajarkan kita untuk mematahkan rasa “lebih”. Saat perut kosong di siang hari, kita diingatkan bahwa tanpa karunia-Nya, kita tidak berdaya. Apa yang kita banggakan ketika segelas air saja terasa begitu berharga saat berbuka? Di hadapan Allah, kita semua hanyalah hamba yang lemah. Lapar dan haus menyadarkan kita bahwa di balik segala atribut duniawi, manusia hanyalah makhluk yang rapuh.
Ramadan memberikan kita kesempatan untuk kembali belajar menjadi hamba. Kita melatih diri untuk tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan, tetapi dengan rasa syukur dan rendah hati. Karena sejatinya, bukan kekayaan atau kedudukan yang memuliakan kita di hadapan Allah, melainkan ketakwaan.
Puasa mengikis kesombongan dengan cara yang halus namun mendalam. Kita yang biasanya bebas menikmati segala hal kini diingatkan untuk menahan diri. Ini adalah bentuk latihan merendahkan hati di hadapan-Nya, menyadari betapa kecilnya kita di tengah luasnya ciptaan Allah.
Adapun nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam ibadah puasa antara lain sebagai berikut:
1. Merefleksikan keimanan seorang hamba kepada Sang Khalik.
2. Meningkatkan rasa syukur kepada Allah Swt.
3. Ibadah puasa sebagai madrasah rohani, yang membangkitkan semangat spiritual dan mendekatkan diri kepada Sang Pemilik jagat raya beserta segala isinya. Puasa juga menggelorakan nafsu mutmainnah serta menahan nafsu syahwat yang tidak pada tempatnya.
4. Ibadah puasa sebagai sarana meraih takwa. Nilai spiritual takwa merupakan tujuan utama dari ibadah puasa.
5. Ibadah puasa melatih manusia menjadi lebih tabah dan sabar.
Mengikis Kesombongan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali terjerumus dalam perangkap kesombongan, merasa lebih baik daripada orang lain, merasa lebih mulia karena harta, jabatan, ilmu, atau bahkan karena ibadah yang dilakukan. Padahal, kesombongan adalah sifat yang sangat dibenci oleh Allah.
Kesombongan adalah penyakit hati yang sering kali tidak disadari. Ia bagaikan virus yang merusak amal ibadah kita, termasuk puasa di bulan Ramadan. Kesombongan membuat seseorang merasa lebih tinggi, lebih hebat, dan lebih berhak daripada orang lain. Padahal, hakikatnya kita semua adalah hamba Allah yang sama-sama lemah dan membutuhkan rahmat-Nya.
Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri bukan hanya dari hal-hal yang bersifat materi, tetapi juga dari sifat-sifat buruk yang merusak hati dan jiwa. Melalui rasa lapar dan haus saat berpuasa, kita diajarkan untuk menundukkan hawa nafsu yang sering kali menjadi sumber dari berbagai keburukan. Rasa lapar dan dahaga ini mengingatkan kita akan kelemahan dan ketergantungan kita sebagai hamba Allah.
Dengan demikian, puasa menjadi sarana untuk membersihkan jiwa dari sifat-sifat tercela seperti tamak (serakah), rakus, riya’ (pamer), dan sombong.
Puasa tidak hanya membersihkan tubuh dari makanan dan minuman yang haram, tetapi juga membersihkan jiwa dari noda-noda dosa dan penyakit hati. Puasa merupakan proses tazkiyatun nafs yang mengarahkan manusia menuju ketakwaan dan kedekatan dengan Allah Swt.
Dalam Islam, terdapat tiga tahapan penyucian jiwa, yaitu:
1. Takhalli, mengosongkan hati dari sifat-sifat tercela seperti sombong, ujub, dan iri hati.
2. Tahalli, mengisi hati dengan sifat-sifat terpuji seperti tawadhu’, sabar, dan syukur.
3. Tajalli, mencapai tingkatan spiritual tertinggi ketika seseorang hanya berorientasi kepada Allah.
Dengan demikian, Ramadan merupakan momentum terbaik untuk melatih diri dalam proses tersebut. Orang yang sombong cenderung sulit menerima kebenaran dan enggan mengakui kesalahan. Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini untuk memperbaiki hati dan membangun karakter yang lebih baik, termasuk mengikis sifat kesombongan.
Pada akhirnya, Ramadan adalah momentum utama untuk mengikis kesombongan manusia—penyakit hati yang dibenci Allah dan penghalang masuk surga. Puasa mendidik kerendahan hati (tawadhu) dengan menahan hawa nafsu dan menyadari kelemahan diri, sehingga manusia tidak pantas bersikap angkuh. Bersikap sombong saat berpuasa menunjukkan ketidakberhasilan seseorang dalam memaknai esensi Ramadan.

Dr. KH. Encep Safrudin Muhyi, M.M., M.Sc., Penulis Buku Kepemimpinan Pendidikan Transformasional dan Manajemen Transformasi Pendidikan, serta Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.











