Penulis : Annisa Ratu, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
SEJAK peresmian Royal Baroe pada 26 Desember 2025 oleh Gubernur Banten Andra Soni, kawasan perdagangan Royal Kota Serang berubah menjadi lebih hidup dibandingkan sebelumnya, dengan meningkatnya jumlah pengunjung yang berwisata, terutama pada sore hingga malam hari.
Royal, menurut Iwan Subakti dalam wawancaranya di Biem TV, merupakan kawasan Pecinan yang telah berdiri sejak tahun 1600-an dan mulai ramai sebagai kawasan perdagangan dan hiburan sejak tahun 1960–1970-an (Biem TV, 2019).
Sejak masa tersebut, kawasan Royal dipenuhi oleh pertokoan yang sebagian besar dimiliki oleh masyarakat etnis Tionghoa. Pertokoan tersebut memperdagangkan berbagai produk, seperti pakaian, makanan, barang rumah tangga, buku dan peralatan sekolah, hingga aksesori, yang sebagian masih bertahan hingga saat ini.
Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir kawasan pertokoan ini terasa semakin semrawut, padahal kawasan lain di Kota Serang perlahan mulai membangun dan membenahi diri.
Dari sinilah pemerintah akhirnya berupaya meningkatkan nilai kawasan tersebut dengan mempercantik trotoar dan jalan di kawasan Royal, khususnya Jalan S.A. Tirtayasa, agar lebih ramah bagi pejalan kaki, sekaligus menertibkan pedagang kaki lima dan merelokasinya ke kawasan lain.
Upaya peningkatan nilai kawasan Royal Kota Serang tersebut tentu patut disambut baik sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap langkah pemerintah dalam membenahi kota. Namun, apakah upaya tersebut sudah benar-benar maksimal? Dalam perspektif pariwisata, terdapat beberapa poin penting yang perlu diperhatikan agar suatu daerah memiliki nilai pariwisata yang baik.
Cooper (2008) menyebutkan konsep 4A, yaitu attraction (daya tarik), accessibility (aksesibilitas), amenities (fasilitas), dan ancillary (layanan tambahan). Dalam tulisan ini, penulis akan lebih menekankan pada poin daya tarik dan layanan tambahan, karena untuk aspek aksesibilitas dan fasilitas, Royal Baroe sudah menunjukkan peningkatan yang cukup baik.
Dari sisi daya tarik (attraction), Royal Baroe memiliki potensi yang menarik. Selain berfungsi sebagai pusat perbelanjaan di Kota Serang, kini Royal Baroe hadir sebagai kawasan yang lebih tertata dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, seperti lampu jalan yang estetis, bangku taman di berbagai sudut, serta sarana kebersihan berupa tempat sampah yang ditempatkan secara berkala.
Seiring dengan pembaruan kawasan ini, berbagai bentuk hiburan dan peluang bisnis pun bermunculan dari beragam kalangan masyarakat dan komunitas, seperti pertunjukan cosplayer, fotografer jalanan, dan aktivitas kreatif lainnya. Namun demikian, muncul pertanyaan penting: apakah daya tarik semacam ini dapat bertahan dalam jangka panjang?
Diperlukan narasi yang kuat agar masyarakat tidak hanya tertarik datang sekali, tetapi juga memiliki keinginan untuk terus kembali ke Royal Baroe. Perbaikan fasilitas fisik memang penting, tetapi belum cukup jika tidak dibarengi dengan pembangunan makna. Royal Baroe yang memiliki nilai sejarah dapat dikembangkan dengan pendekatan historis.
Bangunan-bangunan rumah toko lama yang masih berdiri kokoh dan berjejer rapi dapat berfungsi sebagai saksi sejarah kawasan tersebut.
Sebagai perbandingan, beberapa wilayah lain di Indonesia maupun luar negeri telah berhasil mengangkat kawasan bersejarah sebagai daya tarik pariwisata. Kota Bandung, misalnya, dengan kawasan Braga yang masih mempertahankan banyak bangunan bersejarah. Narasi komunikasi pariwisatanya secara aktif menyoroti Museum Asia Afrika, Gedung Merdeka, serta bangunan-bangunan kuno lain yang tetap dilestarikan.
Contoh lainnya adalah kawasan Tiong Bahru di Singapura, yang merupakan kota tua dengan beragam atraksi sejarah dan kuliner lokal. Atraksi sejarah yang menekankan identitas lokal seperti ini cenderung lebih berkelanjutan dan mampu menarik wisatawan lokal maupun mancanegara karena memiliki keunikan tersendiri, dibandingkan sekadar meniru kemasan pariwisata dari luar tanpa penguatan storytelling yang memadai.
Lalu, bagaimana membangun storytelling yang kuat? Langkah awal dapat dimulai dari penggalian identitas kawasan Royal dan sekitarnya, serta sejarahnya yang sesungguhnya sangat menarik untuk dikaji. Selain menambah wawasan masyarakat, pendekatan ini juga dapat menjadi strategi branding yang efektif bagi Royal Baroe, misalnya sebagai kawasan warisan budaya dan sejarah.
Upaya tersebut perlu dibarengi dengan digitalisasi informasi melalui berbagai platform digital dan media sosial Pemerintah Kota Serang, serta pengembangan sarana komunikasi interaktif, seperti penggunaan QR (Quick Response) Code di berbagai titik Royal Baroe. QR Code tersebut dapat diarahkan ke situs web atau video yang menjelaskan asal-usul nama Royal, sejarah perdagangan, serta perkembangan hiburannya. Konsep ini sejatinya telah banyak diterapkan di berbagai museum di Indonesia.
Berdasarkan penelitian Putra dkk. (2024), teknologi QR dan AR (Augmented Reality) banyak digunakan di museum karena mampu meningkatkan pengalaman interaktif pengunjung terhadap koleksi yang ditampilkan. Selain itu, pengembangan situs web museum juga dapat memperluas akses informasi secara daring sehingga meningkatkan relevansi institusi budaya di era digital. Dengan storytelling yang kuat serta pemanfaatan teknologi yang relevan, Royal Baroe memiliki peluang besar untuk berkembang dan mempertahankan relevansinya sebagai destinasi wisata.
Dari sisi aksesibilitas (accessibility), Royal Baroe tergolong sangat mudah dijangkau, baik menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum, termasuk layanan transportasi daring dan angkutan kota. Letaknya yang berada di pusat kota menjadikan kawasan ini strategis dan mudah diakses. Ke depan, aspek ini masih dapat dikembangkan, misalnya dengan penyediaan titik pemberhentian khusus bagi angkutan umum agar lalu lintas lebih tertib.
Pada aspek fasilitas (amenities), kondisi Royal Baroe juga menunjukkan perbaikan, seperti tersedianya tempat sampah, bangku taman, serta penerangan yang memadai. Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah hal yang perlu dibenahi, seperti penyediaan kawasan parkir yang lebih tertata dan dikelola secara profesional untuk menghindari parkir liar, serta pembangunan toilet umum yang layak.
Terakhir, dari sisi layanan tambahan (ancillary), Royal Baroe masih menghadapi tantangan. Layanan pemandu wisata dan promosi pariwisata belum dikelola secara optimal dan masih sangat bergantung pada komunikasi serta viralitas media sosial.
Pola promosi semacam ini cenderung tidak berkelanjutan, terlebih jika pesan yang disampaikan hanya menonjolkan keindahan fisik atau nilai instagrammability. Oleh karena itu, promosi perlu dibarengi dengan narasi yang kuat serta pemenuhan unsur-unsur 4A secara menyeluruh untuk meminimalkan potensi kekecewaan pengunjung.
Kekecewaan semacam ini kerap muncul dalam narasi media sosial, misalnya ketika realitas di lapangan tidak seindah yang ditampilkan di Instagram. Fenomena tersebut telah banyak terjadi pada berbagai destinasi wisata yang sempat viral atau booming, tetapi hanya bertahan dalam waktu singkat. Salah satu penyebab utamanya adalah pengembangan unsur 4A yang kurang optimal serta lemahnya narasi destinasi, sehingga berdampak pada persepsi publik. Tentu kita tidak ingin Royal Baroe bernasib serupa—cepat viral, tetapi juga cepat tenggelam seperti kawasan wisata lainnya, bukan?
Editor: Aas Arbi











