SERANG- Kondisi terminal tipe C yang ada di Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang sepi. Kondisi tersebut diakibatkan lantaran angkutan pedesaan atau angkot yang tidak mau masuk kedalam terminal.
Kepala Seksi (Kasi) Terminal Dishub Kabupaten Serang Wipi Yuningsih mengaku, jika angkutan pedesaan memang jarang mau masuk ke dalam terminal. Mereka lebih sering menunggu penumpang di lokasi-lokasi yang strategis seperti di pertigaan Tunjung Teja ataupun pangkalan lainnya.
“Kendala memang untuk angkutan pedesaan mereka lebih ke pangkalan-pangkalan. Saat kita tanya memang kendalanya jauh, terus tidak ada penumpangnya,” katanya, Jumat 15 November 2024.
Ia mengaku, di tengah perkembangan zaman, angkutan umum memiliki banyak saingan, salah satunya ialah dengan banyaknya ojek online. “Memang masyarakat sekarang kan semuanya serba aplikasi,” ujarnya.
Selain itu salah satu hal yang jadi kendala ialah soal minimnya trayek yang ada di wilayah Kabupaten Serang. Bahkan jumlah kendaraan yang terdaftar dalam trayek di Kabupaten Serang hanya 59 angkutan pedesaan. “Tadinya kita punya 3 ribu lebih, cuman sudah dilimpahkan ke provinsi, sekarang tinggal 59,” ujarnya.
Ia mengatakan, kondisi di terminal Tunjung Teja tidak sepenuhnya kosong. Dalam satu hari biasanya ada kendaraan bus masuk ke dalam terminal. “Yang masuk ke terminal Tunjung tidak menentu, kadang 5 kendaraan, 10 kendaraan, kandang juga 2, jadi tidak pasti sehari-harinya. Jadi memang jangan disamakan terminal tipe C disamakan dengan Tipe A. Kalau tipe A kan numpak semua kendaraan di sana,” ujarnya.
Nantinya, untuk fungsi terminal sendiri akan lebih didorong untuk Pengawas dan Pengendalian (Wasdal) bagi angkutan di Kabupaten Serang. Sementara untuk naik turun penumpang, pihaknya akan memaksimalkan halte-halte.
“Ke depan memang terminal bukan jadi tempat tujuan, jadi nanti dibutuhkan halte-halte. Makanya kita siasati dengan halte. Supaya lebih hidup lagi. Lalu penumpang juga bisa nyaman naik atau turunnya karena ada tempat duduk. Kita pantau nanti di mana lokasi yang jadi titik kumpulnya, baru kita buatkan tindakan, apakah dibuatkan halte. Mungkin kan karena penumpang maunya di sana,” ujarnya.
Salah seorang sopir angkutan pedesaan trayek Serang-Tunjung Teja Jali mengatakan, alasan dirinya tidak masuk ke dalam terminal karena aksesnya yang terlalu jauh dan tidak adanya penumpang di dalam terminal. Alhasil ia lebih memilih untuk ngetem di lokasi-lokasi yang strategis seperti di lokasi dekat sekolah.
“Seharusnya memang di terminal, cuman ga strategis lokasinya, kejauhan. Kalau pas di pertigaan sih pas, jadi mobil rangkas dan dari mana-mana bisa kumpul di sana,” katanya.
Ia mengaku, kondisi angkutan pedesaan di Kabupaten Serang sangat memperihatinkan. Mereka merasa kesulitan untuk mencari penumpang. “Jadi kita mengandalkan anak sekolah aja ni pak, ongkosnya jujur aja cuman Rp1.000,” ujarnya.
Editor: Bayu Mulyana











