SERANG, RADARBANTEN.CO.ID-Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Provinsi Banten Lukman angkat bicara terkait dengan pembatalan ribuan pelajar di Banten untuk tampil dalam acara pemecahan rekor MURI kategori tari kolosal terbanyak di KP3B, Kota Serang, Rabu 11 Desember 2024 kemarin.
Lukman mengaku, pihaknya sengaja membatalkan ribuan pelajar dari sejumlah daerah di Banten untuk tampil menari dikarenakan faktor cuaca yang melanda wilayah Banten dan sekitarnya.
“Ya karena memang cuaca kan yang dikhawatirkan. Dan posisinya ada teman-teman di sekolah juga yang kebanjiran sehingga posisi itu membuat tidak nyaman. Sehingga ada beberapa peserta yang terpaksa kita urungkan (tampil),” ungkap Lukman.
“Ya di antaranya itu (faktor cuaca),” imbuhnya.
Disinggung mengenai kerugian materil yang dialami oleh para pelajar tersebut, Lukman menyebut jika hal itu bukan menjadi tanggung jawab pihaknya. Sebab kata Lukman, pembatalan itu disebabkan karena adanya force majeure (bencana).
“Ketika ada force majeure ya karena itu kan bukan kesalahan kita. Jadi tidak ada lah (kompensasi), dari anggaran APBD enggak mungkin, gitu posisinya,” tandas Lukman.
Di tempat terpisah, Pendiri Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Tari Indonesia (DPD ASETI) Provinsi Banten Endang Suhendar mendesak kepada Dindikbud Banten terkait kerugian materil dampak dari pembatalan itu. Sebab, para pelajar telah memesan kostum yang akan mereka pakai dalam acara itu.
“Tentu mereka sudah mempersiapkan diri, mulai dari persiapan sewa kostum, beli make up, booking mobil dan memesan makanan untuk gelaran acara ini. Lalu siapa yang akan bertanggung jawab,” kata Endang.
Selain itu, menurut Endang, para murid juga mengalami kerugian lain yakni terhadap mental para peserta yang sebelumnya udah semangat berlatih cukup lama demi mengikuti acara ini.
Untuk itu, ia mendesak agar pihak-pihak yang terlibat dalan proses pembuatan kegiatan tersebut dan pihak yang menggagalkan ribuan pelajar tampil menari untuk bertanggung jawab atas persoalan tersebut.
“Dinas Pendidikan Provinsi Banten harus meminta maaf kepada para siswa-siswi, juga kepada publik,” tegasnya.
Reporter : Yusuf Permana
Editor: Agung S Pambudi











