TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID – Ramadhan sebentar lagi tiba. Umat muslim diminta untuk kembali mengingat utang-utang puasanya.
Membayar utang puasa hukumnya wajib, bahkan utang puasa tetap dibawa sampai mati, sehingga umat muslim wajib membayarnya.
Begitu beratnya utang puasa, sehingga kita diwajibkan untuk taat berpuasa sebulan lamanya.
Menurut Ustazah Dewi Ani Indrayani, pengurus Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, umat muslim diminta tidak membayar utang sampai kelewat tahun.
Ada beberapa trik agar kita membayar utang puasa. Salah satunya adalah dengan puasa Senin-Kamis yang diniatkan membayar utang puasa Ramadhan.
Kita bisa memanfaatkan puasa Senin-Kamis dengan diniatkan untuk mengganti utang puasa Ramadhan.
“Puasa Senin-Kamis niatnya harus bayar utang atau qodho. Kalau niatnya bayar utang, maka puasa sunnahnya terbawa, include. Tapi kalau niatnya puasa sunnah doang, utangnya tidak terbayar,” ujar Dewi.
Bagaimana sampai bulan Ramadhan berikutnya tidak membayar utang puasa?
“Utang itu dibawa mati,” ujar Dewi.
Sehingga, menurutnya, tidak akan lunas sebelum dibayar dan tetap harus membayar utang puasa atau qodho.
Ada dua pendapat terkait persoalan ini. Menurut pendapat Imam Hanafi dan Ibnu Hazm, tidak perlu fidiyah (membayar utang dengan uang atau makanan), hanya cukup membayar hutang qodho-nya saja.
“Tapi taubat yang banyak,” ujarnya.
Kemudian, menurut pendapat Imam Maliki dan Imam Syafei, harus bayar utang atau qodho dan bayar fidyah, satu hari satu mud (satu mud setara dengan 675 gram atau 0,688 liter makanan).
Jika dua tahun belum bayar, maka satu hari dua mud. Kalau tiga tahun belum bayar, maka satu hari tiga mud.
“Gimana coba kalau sudah begitu? Makanya enggak usah dientar-entarin. Enggak usah dilupakan, utang harus diingat sampai kapanpun kitat tetap bayar utang,” katanya.
Editor: Agus Priwandono











