SERANG,RADARBANTEN.CO.ID – Setiap tahun, awal puasa Ramadhan dalam kalender Masehi berbeda karena perbedaan sistem penanggalan dengan kalender Hijriah. Lalu, kapan puasa Ramadhan 2025 dimulai?
Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi setiap Muslim yang telah baligh. Kewajiban ini disebutkan dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 183.
Prediksi Awal Puasa Ramadhan 2025 Menurut Pemerintah
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI, awal puasa Ramadhan 1446 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025. Namun, tanggal ini masih bersifat perkiraan dan akan dikonfirmasi melalui sidang isbat.
Sidang isbat akan dilakukan pada 29 Syaban untuk menentukan awal Ramadhan secara resmi. Dalam sidang ini, Kemenag akan mengkaji hasil hisab (perhitungan astronomi) dan mengonfirmasinya melalui pemantauan hilal. Setelah itu, keputusan resmi akan diumumkan.
Awal Puasa Ramadhan 2025 Menurut NU
Hingga saat ini, Nahdlatul Ulama (NU) belum mengumumkan tanggal pasti awal puasa Ramadhan 2025. Seperti tahun-tahun sebelumnya, NU menggunakan metode rukyatul hilal (pemantauan hilal) untuk menentukan 1 Ramadhan.
Metode ini juga digunakan oleh pemerintah. Pengamatan hilal akan dilakukan serentak di berbagai lokasi yang telah ditentukan, lalu hasilnya akan dikaji oleh Lembaga Falakiyah PBNU sebelum pengumuman resmi dikeluarkan.
Awal Puasa Ramadhan 2025 Menurut Muhammadiyah
Berbeda dengan pemerintah dan NU, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal puasa Ramadhan 2025 dengan berpedoman pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Berdasarkan perhitungan ini, 1 Ramadhan 1446 H jatuh pada Sabtu, 1 Maret 2025.
Menariknya, penetapan Muhammadiyah ini sama dengan prediksi awal Ramadhan dari pemerintah. Menurut KHGT, puasa Ramadhan tahun ini berlangsung selama 29 hari, sehingga Hari Raya Idul Fitri diperkirakan jatuh pada Minggu, 30 Maret 2025.
Meskipun ada sedikit perbedaan dalam metode penentuan awal Ramadhan, umat Muslim di Indonesia tetap menantikan pengumuman resmi dari masing-masing lembaga keagamaan.
Editor: Bayu Mulyana











