LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Sejarawan dan budayawan, Teguh Setiawan, menilai bahwa pembongkaran atap Stasiun Rangkasbitung peninggalan zaman penjajah Belanda merupakan hal yang tidak menghargai sejarah stasiun itu.
Bangunan atap dan tiang stasiun itu merupakan satu-satunya yang tersisa dalam bangunan Stasiun Rangkasbitung yang notabene peninggalan Belanda.
Jika hal tersebut dipugar, maka masyarakat Lebak tidak akan memiliki lagi kebanggaan sejarah terhadap Stasiun Rangkasbitung yang sudah berdiri sejak lama.
“Penyusutan 22 tiang penyangga menjadi enam penyangga saja sudah merupakan bentuk penyusutan heritage sejarah, apalagi sekarang atapnya mau di bongkar,” ujar Teguh kepada Radarbanten.co.id, Jumat, 21 Februari 2025.
Teguh menjelaskan bahwa pemerintah Hindia Belanda merancang stasiun itu dengan gaya arsitektur indische empire, corak arsitektur disesuaikan dengan iklim tropis basah dan hal itu sudah bertahan kuat lebih dari ratusan tahun.
“Jika alasannya adalah efesiensi dan bisa mengakomodasi jumlah penumpang yang ingin mengunakan kereta api, maka hendaknya jalur masuk dan jalur keluar diperbanyak dengan disertai jadwal keberangkatan kereta api yang padat,” tuturnya.
Ia menambahkan, ada banyak pembangunan stasiun di Indonesia tapi mereka tidak menghilangkan nilai asli sejarah bangunan tersebut.
“Seperti Stasiun Binjai, Stasiun Tanjung Priok, Stasiun Kota baru, Stasiun Malang dan Stasiun Padalarang, mereka tetap memodernisasi stasiun tapi tak sekalipun menghilangkan keaslian bangunannya, sepertinya kita harus belajar kepada mereka,” pungkasnya.
Editor: Agus Priwandono











