SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Di trotoar Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kota Serang, sekelompok anak duduk tanpa alas sambil menggenggam buku dan pensil seadanya.
Mereka bukan sekadar bermain, melainkan belajar di Sekolah Pinggir Jalan (SPJ).
Sekolah Pinggir Jalan, sebuah inisiatif pendidikan alternatif bagi anak-anak jalanan yang selama ini terpinggirkan dari sistem sekolah formal.
Di Sekolah Pinggir Jalan, mereka belajar membaca, menulis, dan menggambar tanpa terbebani biaya, seragam, atau administrasi yang sering menjadi penghalang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Di tengah gemuruh kota yang terus bergerak, mereka menemukan ruang untuk bermimpi.
Sekolah Pinggir Jalan lahir dari kegelisahan terhadap ketimpangan pendidikan di Indonesia.
Sabil Kautsar, salah satu pengajar di Sekolah Pinggir Jalan, mengatakan bahwa berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, sekitar 25 juta penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan, dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan.
Banyak dari mereka yang terpaksa mengamen atau mengemis demi sesuap nasi.
Sementara, pendidikan terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.
“Kami percaya pendidikan adalah hak setiap orang, tanpa pembedaan dan pembatasan,” ujar Sabil Kautsar, Jumat, 28 Februari 2025.
Baginya, sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi juga ruang ekspresi dan harapan bagi mereka yang tersisih.
Sayangnya, di kota-kota besar, anak-anak ini sering kali terlupakan. Alih-alih menciptakan lingkungan inklusif, kebijakan pemerintah lebih banyak berfokus pada estetika kota dan pembangunan infrastruktur mewah.
“Penggusuran permukiman kumuh tanpa solusi yang jelas, minimnya ruang publik yang ramah anak, semakin mempersempit peluang bagi mereka untuk berkembang,” ungkap Sabil.
“Kota yang manusiawi bukan dinilai dari tingginya gedung, tapi dari bagaimana ia memperlakukan warganya, terutama kelompok rentan,” tambah Sabil.
Di Sekolah Pinggir Jalan, pendidikan tidak terbatas pada kurikulum formal. Para relawan mengajarkan keterampilan dasar, literasi, hingga seni sebagai bentuk pembelajaran yang lebih fleksibel dan menyenangkan.
Bagi para pengajarnya, ruang ini bukan sekadar tempat berbagi ilmu, tetapi juga wadah untuk belajar memahami realitas sosial yang ada.
“Kami tidak hanya mengajar, tapi juga ikut belajar,” kata Sabil.
Sebab, menurutnya, pendidikan bukan sekadar angka dan nilai, tetapi proses membentuk karakter, empati, dan solidaritas sosial.
“Apa artinya kesenian bila terpisah dari derita lingkungan, apa artinya berpikir bila terpisah dari masalah kehidupan,” katanya, mengutip seniman W.S. Rendra.
Editor: Agus Priwandono











